Uncommon Knowledege


(Pengetahuan Yang Tidak Biasa)

 

1. Memori para lanjut usia.

Studi MRI menunjukkan bahwa pada usia di atas 61 korteks prefrontal ventromedial dan amygdala, yang mengurus emosi, dan hippocampus, yang mengurus memori menjadi ekstra aktif manakala kepadanya diperlihatkan gambaran yang sifatnya positif (misalnya induk kucing sedang merawat anak-anaknya), ketimbang gambaran bernuansa negatif (misalnya seseorang yang menderita luka tembak). Yang sebaliknya terjadi pada orang-orang usia di bawah 31 tahun. Pada lansia memori positif lebih lama bertahan ketimbang memori negatif. Itu juga sebabnya mengapa para lansia lebih mudah memandang suatu peristiwa dari sudut pandang positif daripada kaum mudanya. Secara psikologis mungkin bawah sadar para lansia memahami bahwa mereka sudah memudar sehingga menghindar dari memori negatif. Secara alamiah mereka dibawa pada upaya “menikmati sisa hidup” sepenuh-penuhnya dan enggan berlama-lama pada ingatan yang nuansanya negatif.

Untuk mawas diri para lansia: nikmati saja hidup ini, jangan dibikin negatif dan jangan gemar akan hal-hal yang nuansanya negatif!

 

2. Pembimbing /pelatih olah raga pada anak dan remaja secara tak disadari dapat membawa pengaruh gemar berolah raga atau tidak menyukainya ketika mereka dewasa dan lansia.

Pelatih yang melatih dengan penuh kedisiplinan yang kaku, disertai hukuman, pelecehan, sekalipun dengan maksud agar mereka lebih keras berusaha mencapai prestasi atau berdisiplin, membuat bawah sadar mereka jadi tidak menyukai olah raga. Pelatih yang melatih sambil membawakan gairah dan kesukaan, akan membawa mereka jadi penggemar olah raga. Sayangnya 70% dari remaja kemudian harinya membenci olah raga berasal dari para pelatih yang berpendapat bahwa membimbing berolah raga secara disiplin yang kaku dan keras akan menghasilkan insan yang punya nilai tinggi dalam olah raga.

Untuk direnungkan para pelatih: perlunya mengubah filosofi cara membimbing remaja dalam berolah raga.

 

3. Kebahagiaan di akhir minggu

Siapapun faham, akhir minggu adalah waktu yang ditunggu-tunggu dengan penuh gairah. Studi menunjukkan sebabnya: bukan semata-mata “libur” melainkan ternyata lebih karena pada hari itu mereka merasa terbebaskan (dari pengawasan boss atau disiplin pekerjaan), mereka merasa lebih  bermakna (karena bisa melakukan sesuatu yang dari dan oleh dirinya sendiri, bukan menjalankan tuntutan pekerjaan) dan mereka bisa merasakan hubungan antar manusia yang lebih setara dan tanpa tuntutan apapun kecuali ketulusan (bukan karena sesama rekan kerja yang harus saling bergantung atau hubungan atasan-bawahan).

Untuk direnungkan: jika anda ingin dapat menikmati hidup sepenuhnya: 1) jadilah diri sendiri, jangan ditentukan oleh / bergantung kepada pendapat orang lain; 2) upayakan diri anda bermakna bagi orang lain; 3) jalin persahabatan sejati dengan ketulusan.

 

4. Hubungan antar saudara sekandung di masa kanak-kanak bisa terbawa dalam kehidupan selanjutnya.

Anak-anak dari saudara sekandung di masa usia antara 8-20 tahun, yang banyak bertengkar, terutama konflik yang bernuansa egosentris: “punyaku ya harus punyaku, punyamu bisa jadi punyaku”,  pada kehidupan dewasa sampai lansianya bisa mengalami kesulitan kepribadian tatkala berhubungan dengan orang lain. Konflik yang didasari egosentrisme akan membekas dalam bentuk hilangnya kemampuan dipercaya dan mempercayai orang lain, mengganggu kualitas komunikasi dan mempermudah depresi, ansietas dan kurangnya rasa harga diri.

Untuk direnungkan: para orang tua, jika menjumpai anak-anaknya bertengkar dengan nuansa konflik yang egosentris hendaknya membimbing untuk bertengkar secara sehat: tidak punya niat jahat dari lubuk hati yang terdalam terhadap sesama saudaranya; menyingkirkan nuansa pementingan diri.

 

5. Kemampuan / ketidak mampuan kontrol diri di masa kanak-kanak bisa terbawa sampai dewasa. Anak-anak yang sering mengalami “tantrum” (ngamuk tanpa alasan yang ‘masuk akal’) menunjukkan masa dewasa yang juga bakal sulit. Ia akan kesulitan membawa diri secara dewasa.

Salah satu metoda melatih anak-anak lepas dari kebiasaan tantrum adalah berlatih nafas dalam sambil bermeditasi (secara sederhana), membawa mereka yang sedang tantrum ke suasana merenung ketimbang menghajar atau membentak, misalnya dengan mengurungnya dalam sebuah kamar dengan instruksi untuk merenung diri, untuk waktu tertentu. Tentunya ini perlu persiapan jauh sebelum terjadinya tantrum seperti itu, misalnya tersedianya kamar yang “aman” (tidak memungkinkan anak mencederai diri) dan nyaman, lepas dari suasana hukuman.

 

6. Anak-anak yang lahir setelah tahun 1981 ternyata lebih banyak mengalami sindroma “kerja santai, banyak libur, upah besar“. Ini sungguh sangat memprihatinkan, sebab etos kerja sudah tidak laku lagi bagi mereka. Mereka adalah generasi Gen-Y. Di sisi lain adalah generasi Gen-X yang masih mengutamakan kerja keras dan meyakini etos kerja: hanya kerja keras yang akan membawamu ke kejayaan.

Tapi studi juga menunjukkan bahwa terjadinya Gen-Y juga akibat kesalahan didik orang tua dan lingkungan, yang menganggap karena sudah makmur lantas tidak menekankan perlunya kerja keras, hidup berprihatin dan hemat.

Untuk direnungkan: para orang tua dan guru, para pemimpin perusahaan, masih ada kesempatan membina anak-anak, para murid dan remaja serta para pegawai masa kini untuk kembali ke generasi Gen-X, generasi prihatin dan kerja keras.

Jason Daley, Popular Science August 2010

 

Incoming search terms:

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>