Berpura-pura

Kompas 2008


Ada 2 tipe: berpura-pura yang negatif dan yang positif.

Berpura-pura negatif, misalnya: sebenarnya relasi anda dengan pasangan anda tidak harmonis, sekadar agar tidak pecah menjadi pertengkaran, anda berpura-pura semua baik-baik saja, anda menahan diri, berkorban, menipu kawan-kawan anda, membohongi pasangan anda dan akhirnya juga membohongi diri anda sendiri. Kepura-puraan anda tidak membawa kepada hubungan lebih baik melainkan sekadar tampak baik.

Dikatakan negatif, sebab kepura-puraan begini amat menguras energi, membuat anda lelah secara batin sampai akhirnya tak tertahankan, meletus bagai gunung api setelah energinya sekian lama terpendam.

Berpura-pura yang positif misalnya: masih pada contoh hubungan tak harmonis antar pasangan, tapi kali ini anda berpura-pura semuanya baik-baik saja, sambil berpura-pura hendak membalas kebaikannya (walau belum tampak oleh anda) dengan berperilaku positif, mulai dari hal kecil dan sederhana, serta “netral” misalnya ketika hendak mandi anda minta tolong pasangan anda mengambilkan handuk, pakailah nada suara yang dibuat (berpura-pura) ramah, lalu ucapkan terima kasih. Keesokan harinya, ketika ia hendak mandi, sebelum sempat mengambil handuk, anda bersegera mengambilkan handuk baginya, seolah-olah hendak membalas kebaikannya kemarin telah mengambilkan handuk (walau itu anda yang minta). Atau pasangan anda sukanya didengar, bukannya mendengar, suatu ketika saat ia minta didengar lagi, katakan: “oke, silakan, aku bantu dengar, tapi nanti gantian ya, aku juga pengen kamu dengar.” Tentunya ini membutuhkan persiapan, bahwa apa yang anda hendak minta ia dengar nanti memang cukup bermakna, bukan hal sepele dan remeh-temeh.

Sawitri Sadarjoen

Incoming search terms:

Terapi Pemimpin



Pemimpin (pribadi) yang tak mampu merespon krisis akan menjadi pribadi yang negatif, paranoid, agresif atau depresif.

Kalau sudah begitu, disarankan ikuti Terapi Pemimpin.

Apa tandanya kita sudah memerlukan Terapi Pemimpin?

1) sudah (merasa) kerja keras tapi ternyata tidak efektif

2) tidak menyadari cara yang ditempuh menyakiti / merugikan orang lain; pemimpin sejati menentang penghalalan segala cara tapi berpegang teguh pada moralitas.

3) hidup dalam suasana tegang: takut  gagal tapi juga gamang sukses sebab di belakang keduanya selalu ada beban tanggung jawab.

4) menilai diri berlebihan tanpa kompetensi memadai; mabuk kedudukan dan kekuasaan.

5) cenderung memusuhi mereka yang berprestasi lebih, sampai tega menyabot dan merusaknya; cenderung “sak madyo bae” (mediocre).

6) makin sering menjadi kritikus yang kasar, menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam

7) nuansa di atas ternyata menular dan makin meluas.

 

Inti Terapi Kepemimpinan:

1) membentuk “core belief” (keyakinan yang terdalam) yang positif; bukan asal menampakkan positif, tapi memang  berasal dari dalam dirinya.

2) totalitas diri: membentuk diri menjadi insan yang memang kompeten dan siap kerja keras.

3) menuju ke “menjadi pemimpin” bukan “pemimpin karena dijadikan”: membentuk integritas dan penghargaan diri yang memang bisa diteladani

4) memberi yang terbaik, bukan menuntut yang terbaik.

5) siap mengeset ulang nilai-nilai agar terbebas dari kontaminasi lingkungan yang busuk dan menjadikannya core belief (keyakinan diri) yang kuat.

 

Disarikan dari Kompas, 2009, Rhenald Kasali

Incoming search terms:

Health and Happiness


 

Kunci untuk membuka pintu menuju kebahagiaan.

1) Komitmen

Komitmen adalah keterlibatan yang disertai tekad untuk bertanggung jawab dengan menyingkirkan pementingan diri.

Ketika seseorang mampu berkomitmen ia akan menjadikan dirinya seorang yang punya makna. Inilah kunci kebahagiaan itu. Seseorang yang tidak mau (mampu) bertanggung jawab, pada hakekatnya adalah seorang yang egois, ia tak akan mampu meraih kebahagiaan itu.

Komitmen contohnya ada pada hidup pernikahan; juga pada hubungan persahabatan yang sejati; serta ketika seseorang menerima sebuah pekerjaan.

2) Perhatian kepada hal-hal kecil dan mensyukurinya

Kebahagiaan dipupuk oleh perhatian anda kepada hal-hal kecil di sekeliling anda dan bagaimana dengan hati yang terbuka mampu mensyukurinya.

3) Kemampuan bertahan

Dunia ini memang penuh ketidak adilan, kejutan yang negatif, masalah yang menyergap. Jadi, tetaplah bertahan tanpa mengeluh apalagi sampai tenggelam. Percayalah, pada waktunya semuanya akan  berakhir baik-baik saja.

3) Kehidupan Spiritual

pelihara kehidupan spiritual anda dengan sungguh-sungguh. Keajaiban masih sering terjadi masa ini. Melalui kehidupan spiritual yang seriuslah anda mampu menuai kedamaian batin.

4) Kehidupan Bermasyarakat

pelihara kehidupan bermasyarakat secara tulus. Adanya perasaan ‘saling’ pada saat hidup bermasyarakat memberikan diri anda terasa punya makna.

5) Bermurah hatilah

Kebahagiaan muncul pada saat tangan anda terbuka untuk memberi, bukan saat menerima. Kebahagiaan saat menerima hanya sesaat saja, kebahagiaan saat memberi bertahan lama sebab menyangkut diri anda yang paling dalam. Kemurahan hati hanya bisa muncul dari kebajikan hati yang terdalam, bukan polesan dari kepura-puraan.

6) Pupuklah kebahagiaan dari ‘pengalaman’, bukan pada materi Ketimbang merasa bahagia karena punya mobil baru, rasakanlah sukacita saat bepergiannya (dengan menggunakan mobil itu).

Ketika anda punya kesempatan berwisata, pusatkan kesukaan anda pada pengalaman berwisata itu, bukan pada benda-benda yang anda dapatkan dari wisata itu.

Daniel Gilbert, Reader’s Digest, Feb 2010

 

 

 

Incoming search terms:

Reaksi terhadap Konflik


1) konflik internal, yaitu di dalam diri kita sendiri, ketika kita hendak meraih dua hal yang saling bertentangan sekaligus: di satu sisi anda ingin bisa memasak sendiri biar hemat, di lain sisi tiap paginya anda selalu harus mengejar transportasi umum untuk menuju tempat kerja, yang tak memungkinkan punya waktu mmemasak sendiri.

2) konflik inter personal: ketika terjadi kepentingan berlawanan antara anda dengan pasangan anda: di satu sisi anda hendak berangkat reuni dengan sesama mantan SMP, di lain sisi pasangan anda minta anda mendampingi ia hendak menemui atasannya.

 

Efek konflik adalah frustasi, yang mewujud dalam bentuk:

1) depresi: tanpa sengaja menunjukkan reaksi murung, sedih, kehilangan gairah hidup, kehilangan daya hidup

2) agresif: meletuskan perlawanan, menyerang, memaksakan kehendak, konfrontatif

3) regresif: dengan sengaja mempertontonkan sikap mutung, ngambek

4) apatis: menunjukkan sikap acuh tak acuh, masa bodoh, tak peduli, kehilangan perasaan.

Bagaimana anda mewujudnyatakan frustasi sangat bergantung kepada kepribadian serta suasana hati anda, bisa  bervariasi di antara 4 wujud itu.

 

Bagaimana mengelolanya.

1) mengakui: ya memang saya sedang mengalami konflik. Anda perlu berlatih untuk mampu mengakui hal ini. Kalau anda menolak mengakui bahwa anda sedang terlibat konflik, anda sebenarnya sedang memasuki konflik internal yang makin parah. Jadi, akui saja, lalu melangkah ke langkah berikut:

2) mengelola frustasi.

Tidak semua model di  bawah ini dapat dipakai untuk mengelola setiap macam konflik, sering anda harus “apa boleh buat” menjalankan salah satu metoda ini, atau mengombinasikannya.Yang penting, lakukan sesuatu, bukan tenggelam dalam atau dikuasai oleh frustasi. Do something!

 

a) akomodatif: salah satu sisi mendapat porsi pengelolaan lebih tapi dengan upaya meminimkan efek negatif sisi yang lain.

b) kompromistis: satu sisi dengan sisi lain mendapat bobot perlakuan kurang lebih sama, dengan akibat sama-sama tidak optimal tapi juga kerugian sama-sama minimal.

c) kolaboratif: bekerjasama menanggung pengelolaan kedua masalah,  mungkin mendekati gaya akomodatif (porsi untuk sisi satu lebih) atau gaya kompromistis (bobot pengelolaan kedua sisi porsinya diusahakan sama), tapi intinya digarap barengan.

 

3) belajar melalui konflik jadi lebih maju, memperoleh wawasan lebih maju, pandangan lebih luas, mampu mengemukakan pendapat secara lebih jelas dan mudah difahami, dan mampu lebih mudah memahami orang atau kondisi berbeda.

Jadikan konflik sarana untuk mendewasa, bukan untuk disesali atau mengalami kemunduran.

Sawitri Sadarjoen

Incoming search terms:

Uncommon Knowledege


(Pengetahuan Yang Tidak Biasa)

 

1. Memori para lanjut usia.

Studi MRI menunjukkan bahwa pada usia di atas 61 korteks prefrontal ventromedial dan amygdala, yang mengurus emosi, dan hippocampus, yang mengurus memori menjadi ekstra aktif manakala kepadanya diperlihatkan gambaran yang sifatnya positif (misalnya induk kucing sedang merawat anak-anaknya), ketimbang gambaran bernuansa negatif (misalnya seseorang yang menderita luka tembak). Yang sebaliknya terjadi pada orang-orang usia di bawah 31 tahun. Pada lansia memori positif lebih lama bertahan ketimbang memori negatif. Itu juga sebabnya mengapa para lansia lebih mudah memandang suatu peristiwa dari sudut pandang positif daripada kaum mudanya. Secara psikologis mungkin bawah sadar para lansia memahami bahwa mereka sudah memudar sehingga menghindar dari memori negatif. Secara alamiah mereka dibawa pada upaya “menikmati sisa hidup” sepenuh-penuhnya dan enggan berlama-lama pada ingatan yang nuansanya negatif.

Untuk mawas diri para lansia: nikmati saja hidup ini, jangan dibikin negatif dan jangan gemar akan hal-hal yang nuansanya negatif!

 

2. Pembimbing /pelatih olah raga pada anak dan remaja secara tak disadari dapat membawa pengaruh gemar berolah raga atau tidak menyukainya ketika mereka dewasa dan lansia.

Pelatih yang melatih dengan penuh kedisiplinan yang kaku, disertai hukuman, pelecehan, sekalipun dengan maksud agar mereka lebih keras berusaha mencapai prestasi atau berdisiplin, membuat bawah sadar mereka jadi tidak menyukai olah raga. Pelatih yang melatih sambil membawakan gairah dan kesukaan, akan membawa mereka jadi penggemar olah raga. Sayangnya 70% dari remaja kemudian harinya membenci olah raga berasal dari para pelatih yang berpendapat bahwa membimbing berolah raga secara disiplin yang kaku dan keras akan menghasilkan insan yang punya nilai tinggi dalam olah raga.

Untuk direnungkan para pelatih: perlunya mengubah filosofi cara membimbing remaja dalam berolah raga.

 

3. Kebahagiaan di akhir minggu

Siapapun faham, akhir minggu adalah waktu yang ditunggu-tunggu dengan penuh gairah. Studi menunjukkan sebabnya: bukan semata-mata “libur” melainkan ternyata lebih karena pada hari itu mereka merasa terbebaskan (dari pengawasan boss atau disiplin pekerjaan), mereka merasa lebih  bermakna (karena bisa melakukan sesuatu yang dari dan oleh dirinya sendiri, bukan menjalankan tuntutan pekerjaan) dan mereka bisa merasakan hubungan antar manusia yang lebih setara dan tanpa tuntutan apapun kecuali ketulusan (bukan karena sesama rekan kerja yang harus saling bergantung atau hubungan atasan-bawahan).

Untuk direnungkan: jika anda ingin dapat menikmati hidup sepenuhnya: 1) jadilah diri sendiri, jangan ditentukan oleh / bergantung kepada pendapat orang lain; 2) upayakan diri anda bermakna bagi orang lain; 3) jalin persahabatan sejati dengan ketulusan.

 

4. Hubungan antar saudara sekandung di masa kanak-kanak bisa terbawa dalam kehidupan selanjutnya.

Anak-anak dari saudara sekandung di masa usia antara 8-20 tahun, yang banyak bertengkar, terutama konflik yang bernuansa egosentris: “punyaku ya harus punyaku, punyamu bisa jadi punyaku”,  pada kehidupan dewasa sampai lansianya bisa mengalami kesulitan kepribadian tatkala berhubungan dengan orang lain. Konflik yang didasari egosentrisme akan membekas dalam bentuk hilangnya kemampuan dipercaya dan mempercayai orang lain, mengganggu kualitas komunikasi dan mempermudah depresi, ansietas dan kurangnya rasa harga diri.

Untuk direnungkan: para orang tua, jika menjumpai anak-anaknya bertengkar dengan nuansa konflik yang egosentris hendaknya membimbing untuk bertengkar secara sehat: tidak punya niat jahat dari lubuk hati yang terdalam terhadap sesama saudaranya; menyingkirkan nuansa pementingan diri.

 

5. Kemampuan / ketidak mampuan kontrol diri di masa kanak-kanak bisa terbawa sampai dewasa. Anak-anak yang sering mengalami “tantrum” (ngamuk tanpa alasan yang ‘masuk akal’) menunjukkan masa dewasa yang juga bakal sulit. Ia akan kesulitan membawa diri secara dewasa.

Salah satu metoda melatih anak-anak lepas dari kebiasaan tantrum adalah berlatih nafas dalam sambil bermeditasi (secara sederhana), membawa mereka yang sedang tantrum ke suasana merenung ketimbang menghajar atau membentak, misalnya dengan mengurungnya dalam sebuah kamar dengan instruksi untuk merenung diri, untuk waktu tertentu. Tentunya ini perlu persiapan jauh sebelum terjadinya tantrum seperti itu, misalnya tersedianya kamar yang “aman” (tidak memungkinkan anak mencederai diri) dan nyaman, lepas dari suasana hukuman.

 

6. Anak-anak yang lahir setelah tahun 1981 ternyata lebih banyak mengalami sindroma “kerja santai, banyak libur, upah besar“. Ini sungguh sangat memprihatinkan, sebab etos kerja sudah tidak laku lagi bagi mereka. Mereka adalah generasi Gen-Y. Di sisi lain adalah generasi Gen-X yang masih mengutamakan kerja keras dan meyakini etos kerja: hanya kerja keras yang akan membawamu ke kejayaan.

Tapi studi juga menunjukkan bahwa terjadinya Gen-Y juga akibat kesalahan didik orang tua dan lingkungan, yang menganggap karena sudah makmur lantas tidak menekankan perlunya kerja keras, hidup berprihatin dan hemat.

Untuk direnungkan: para orang tua dan guru, para pemimpin perusahaan, masih ada kesempatan membina anak-anak, para murid dan remaja serta para pegawai masa kini untuk kembali ke generasi Gen-X, generasi prihatin dan kerja keras.

Jason Daley, Popular Science August 2010

 

Incoming search terms:

Empu Di Dalam & Di Samping Seorang Laki-laki


 

Ya, “Perempuan” adalah “Per-Empu-an“: segala sesuatu yang menyangkut keberadaan Sang Empu; Yang Di-Empu-kan.

 

Empu hakekatnya berarti Tuan; yang dimuliakan, yang dihormati, yang diunggulkan, yang dipatuhi, yang diteladani, sampai puncaknya: yang punya “daya linuwih” (punya kesaktian).

 

Sekarang apa sejatinya arti “Laki”? tak lain adalah “Penyeimbang” bagi Bini; lebih payah lagi: “Pemacek“, sosok yang (sekadar) bikin keturunan dari sang Bini!

Nah, jika anda laki-laki yang sudah punya istri, apakah istri anda “perempuan”? seberapakah anda memuliakan, menghormatinya? sudahkah ia menjadi “empu” bagi anda?

 

Perempuan adalah sosok di belakang laki-laki yang secara langsung maupun tak langsung bisa menempa sang laki-laki menjadi sosok yang hebat, tapi juga yang bisa secara langsung menyeretnya kedalam jurang kehancuran atau secara tak langsung menyebabkan kehancuran.

 

Sebuah contoh sosok perempuan yang secara langsung menyebabkan kehancuran, bukankah kita semua pernah mendengar tentang tokoh Simson yang hebat dan perkasa, takluk dan akhirnya hancur di tangan Delilah?

Kisah Raja Daud yang hebat, yang hancur karena Betseba adalah contoh bagaimana sosok perempuan secara tak langsung bisa membawakan kehancuran bagi sosok laki-laki yang hebat itu.

Bukankah Betseba dalam kisah ini tidak berbuat apapun kecuali mandi? Tapi Daud jatuh oleh dirinya sendiri karenanya; karena sosok perempuan.

Kisah mata-mata yang konon sudah teruji sekalipun tak jarang kita baca jatuh juga di tangan sosok perempuan yang dalam hal ini sengaja memasang diri untuk menjatuhkannya.

 

Borte, perempuan hebat permaisuri penguasa jagat Genghis Khan menyadari kemungkinan sang penguasa, suaminya, jatuh di tangan sosok bernama perempuan, konon ia menjaga, melindunginya dengan cara yang unik: setiap kali sang penguasa menaklukkan suatu bangsa atau negeri, Borte menyingkirkan dari pandangan mata Genghis semua perempuan cantik yang ‘punya otak’, dan menyodorkan perempuan cantik yang bodoh dan lugu saja sehingga sang penguasa tidak pernah jatuh dalam pengaruh kecerdikan di balik kecantikan perempuan yang bisa membawanya kepada kehancurannya. Dan Genghis sangat menghargainya, menghormatinya.

Oleh pengaruh Borte jugalah Genghis menjadi Sang Penakluk yang hebat tapi yang sekaligus juga cerdik dan bijaksana, tidak sewenang-wenang, bahkan di bawah pemerintahannya, diterbitkan berbagai peraturan yang mengarahkan rakyatnya pada kehidupan yang beradab, yang dikenal dengan nama Yasa Genghis Khan.

Di bawah Genghis juga ditemukan berbagai perangkat yang bertahan sampai kini, juga oleh pengaruh Borte, yang mendesakkan perlindungan dan penghargaan kepada para cerdik pandai dan para penemu dan pencetus ide. Beberapa di antaranya misalnya ketika Genghis mengharuskan prajuritnya membekal makanan sehat yang berupa gabungan karbohidrat, protein dan lemak dengan sayuran dalam satu paket, yang kini dikenal sebagai hamburger! Ide sistem komunikasi dan pengantaran barang penting oleh satu seri pengendara kuda sehingga setiap pesan dan barang penting dapat diteruskan dengan amat cepat. Bukankah ‘Pony Express’ pada zaman Amerika Muda idenya diambil dari gagasan ini juga? Begitu juga pemakaian garpu untuk mempermudah prajuritnya makan daging, ternyata idenya juga dari Genghis. Begitu juga perlakuan kekebalan diplomatik. Masih banyak ide-ide cemerlang yang muncul di masa itu, sebagian besar masih bertahan memasuki dunia modern. Iseng-iseng saja, tahukah anda permainan ‘bekel’ juga bermula dari Genghis Khan atas ide Borte, untuk mengisi waktu bagi prajurit agar tidak ngawur meluangkan waktu untuk hal-hal negatif yang bisa membahayakan negara. Biji bekel Genghis dibuat dari ‘knuckles’ yaitu ruas-ruas tulang jari binatang tertentu. Biji ini menggambarkan urutan: Sumuran (sumber air vital bagi pasukan untuk kehidupan); Punggungan (anggota tubuh prajurit yang vital untuk menegakkan kekuatan); Gurun (kondisi harian di musim panas) dan Padang Es (kondisi harian di musim dingin). Filosofinya: selama ada sumur, dengan kekuatan punggung prajurit, kondisi gurun maupun padang es sekalipun pasti dapat diatasi.

Sampai saat Genghis wafat di usia 61 tahun, Borte masih resmi penasehat kenegaraannya. Bahkan sampai ke penggantinya, yaitu Ogotai.

Perempuan hebat lain yang membawakan kebesaran bagi suaminya adalah Theodora, yang ada di balik keagungan kaisar Romawi Justinianus I, yang terkenal dengan codex Justinianus serta diundangkannya feminisme, yang sejak masa itu pengakuan dan penghargaan terhadap kaum perempuan diteguhkan. Yang lebih spektakuler adalah  bagaimana Theodora dengan kecerdikan dan kegigihannya, dengan bantuan dua jenderalnya, Belisarius dan Mundus, serta pergerakan kaum pengemis, mampu membasmi total pemberontakan Nika yang semula berhasil mengumpulkan 100.000 orang untuk menumbangkan Justinianus.

 

Apakah pada masa kini masih dapat dikenali kehadiran perempuan demikian? Anda tentu dapat mencarinya sendiri.

Dan para lelaki, simaklah, siapa tahu, salah satunya adalah… istri anda sendiri…

Incoming search terms:

Unknown Knowledge (2)


 

1) Para bintang rock cepat menanjak tapi juga cepat mati.

Ketenaran yang diperoleh dengan cepat ternyata ‘memakan’ terlalu banyak energi pada periode pendek, apalagi energinya sebagian besar adalah energi mubazir sebab mengenai hal-hal yang abstrak (emosional), sehingga seolah ia cepat menua juga.  Ada sebab lain, biasanya ketenaran yang melejit begitu cepat membawanya kepada kehidupan yang nuansanya egosentris, yang apa boleh buat sebab semua penggemarnya terlalu sering dan terlalu banyak mengagulkan dirinya.

Untuk direnungkan: para remaja kita yang memuja mereka ternyata juga bisa tertular demam egosentrisme, yang membawanya pada berbagai masalah emosional, dan pada akhirnya juga sama-sama menderita ‘mati muda’. Para orang tua diharapkan membimbing mereka untuk boleh saja menjadi penggemar tapi tidak perlu sampai ‘berani mati (atau  berani berbuat apapun yang sering tak masuk akal) demi Sang Pujaan’ (yang bakal mati muda).

 

2) Kaum remaja masa kini, dan juga kaum intelek semacam manajer, pegawai kantoran, memakai 95% waktunya untuk duduk dan tidur. Ini pada akhirnya membawa efek kegemukan dan jantung yang tidak sehat. Kalaupun disarankan berolah raga, ternyata hanya 15% yang menanggapi positif. Karena itu disarankan, saat kerja, atau saat di rumah, memperbanyak berdiri, berjalan. Misalnya saat menerima telpon, usahakan sambil  berdiri. Masih  banyak kegiatan harian yang sederhana yang dapat anda lakukan sambil berdiri ketimbang duduk.

 

3) Pasien yang dibawa dengan ambulans, lebih jauh jaraknya, lebih besar kemungkinannya mati atau cacat tetap.

Suasana ambulans yang sempit, penuh alat yang esensial tapi sering tidak sepenuhnya difahami pasien secara tak sadar membawanya lebih dekat ke kematian.

Disarankan, pusat-pusat pertolongan yang lebih tersebar sehingga lebih banyak bisa dijangkau ambulans tanpa harus melewati jarak-jarak jauh. Menata interior ambulans menjadi sesuatu yang ramah pasien, tidak semata-mata untuk keperluan pertolongan fisik, sebab pertolongan bagi pasien tidak melulu fisik tapi juga emosi.

 

4) Kesepian mencekam

Pada usia 50 tahun ke atas, potensial seseorang mengalami kesepian semakin besar. Efek kesepian ini, tak selalu pada sisi emosional (perasaan kesepian, mudah cemas, mudah kuatir, depresi, sedih, marah), tapi ternyata juga efek fisik: naiknya tensi dan kadar gula darah serta kholesterol. Sekali lagi ini adalah efek stresor kortisol.

Karena itu usahakan anda selalu hidup dalam lingkungan persahabatan sejati yang  bersedia saling  berbagi.

 

5) Remaja yang gila HP, atau games, atau i-pod, pemutar musik, perangkat eksotik lainnya atau minum, merokok, ternyata bermula dari kurangnya diri merasa berharga. Seolah dengan memiliki HP (apalagi yang mahal) atau memasang ear phone sambil mendengarkan musik sambil jalan kian-kemari bakal menaikkan harga dirinya.

Sangat memprihatinkan, sebab kenyataan menunjukkan mayoritas perilaku seperti itu justru menunjukkan betapa konyol dirinya di depan orang lain. Itu hanya harga diri semu. Studi menunjukkan justru orang-orang akan memandangnya dengan sebelah mata.

Para orang tua, guru dan para senior diharapkan membantu para remaja ini menemukan harga diri mereka dengan karya nyata, dan berani membukakan mata mereka akan kekonyolan mereka itu. Tapi juga secara jujur mau memberikan pengakuan dan penghargaan kepada setiap hasil karya mereka.

 

6) Kopi atau tidur?

Kalau kita ngantuk di tengah perjalanan, mana yang paling dapat menolong?

Pada usia muda ‘nap’ sejenak bisa menolong, tapi di atas usia 50 tahun sering nap tidak cukup, tapi memang harus tidur. Dalam hal ini kopi (pahit, black coffee) yang diminum tiap 45 menit – 1 jam bisa menolong. Kopi baru bereaksi setelah kira-kira 30 menitan, dan bertahan sampai sekitar 45 menit – 1 jam. Minumlah kopi dalam jumlah sedikit-sedikit (100 cc) tiap 45 menit – 1 jam, daripada sekaligus minum 1 gelas (250 cc), sebab lamanya bertahan sama-sama hanya 45 menit – 1 jam, walau 250 cc atau bahkan 350 cc sekaligus. Dosis kopi yang memadai adalah sekitar 60-100 cc sekali minum untuk jangka 45 menit – 1 jam.

 

7) Remaja yang kurang trampil olah raga (di sekolah) ternyata juga kurang populer. Studi menunjukkan bukan pada ketrampilan olah raganya, tapi pada saat sama-sama kumpul untuk sama-sama berolah raga itulah yang bisa membuat kepribadian sang remaja jadi terbuka, dan itu jalan masuk untuk bisa disukai sesama teman.

 

8)  Berlibur paling efektif adalah tanpa membawa HP. HP secara tak sadar adalah sarana yang bisa menjajah kepribadian kita, dan karenanya sangat mengurangi efektivitas liburan.

Walau begitu, liburan tanpa HP, tapi secara emosional anda masih was-was kalau-kalau ada telpon penting yang terlewatkan juga tidak akan menolong memperbaiki keadaan. Yang benar adalah: sebelum berangkat liburan, delegasikan kepada orang lain yang anda percaya, lalu tegaskan bahwa anda tidak membawa HP, dan karenanya jangan coba mengontak. Setelah itu, serahkan saja semuanya pada ‘nasib’ dan yakinlah bahwa pada akhirnya semuanya akan berakhir baik.

 

9) Mana lebih baik menunjukkan arah, laki-laki atau perempuan?

Gaya laki-laki kalau menunjukkan arah lebih banyak pada: “ke timur sekian meter (atau sekian menit berjalan) lalu belok ke utara dua blok… dst.”

Gaya perempuan: “kalau sudah ketemu Mal Ambarukmo, gang berikutnya belok kiri, sampai jembatan kedua, belok kanan, sampai ketemu pohon randu alas…dst”

Jadi laki-laki orientasinya pada geografi, perempuan pada tanda fisik.

Ini berkenaan dengan pada masa primitif, laki-laki umumnya adalah pemburu (hunter). Ia harus mengejar buruan sampai sangat jauh, dan ia harus bisa kembali dengan cepat. Ia tak cukup hanya memakai tanda-tanda fisik (adanya pohon tertentu, atau batu karang tertentu) sebab tanda fisik pada jarak begitu jauh bisa tidak hanya satu-dua, dan bisa sama bentuknya; ia memerlukan kondisi geografi seperti peta yang rinci. Perempuan, umumnya pengumpul makanan (gatherer), dan untuk itu ia harus faham tanda-tanda fisik lokasi diperolehnya buah-buahan dan sumber makanan lain, tidak cukup hanya membaca peta tapi harus membaca tanda fisik (di depan batu karang hijau itu tumbuh jamur yang bisa dimakan).

Karena itu, laki-laki, bertanyalah arah kepada sesama laki-laki. Kalau yang ada perempuan, mintalah rekan seperjalanan anda yang perempuan untuk bertanya kepadanya.

 

10) Mengapa beberapa anak secara khusus alergi terhadap kacang-kacangan (peanuts) dan olahannya (seperti peanut butter).

Reaksi alergi timbul ketika sistem imunitas tubuh secara berlebihan (hiper reaktif) melawan sesuatu bahan, yang disangkanya benda asing berbahaya. Sistem ini sangat esensial mencegah tubuh kemasukan bahan berbahaya, memang; tapi kalau bahan yang sebenarnya tidak berbahaya dan sistem ini bekerja juga, apalagi secara berlebihan, maka terjadilah reaksi yang bermacam ragam, yang dikenal sebagai reaksi alergi.

Mengapa justru peanuts: karena beberapa protein dalam peanuts memang cenderung punya struktur yang berdekatan dengan struktur molekul benda yang ‘berbahaya’ (ada kemiripan). Apalagi jika peanuts diolah dalam suhu tinggi seperti dipanggang (roasted), yang menyebabkan struktur protein tadi semakin amburadul dan berpotensi besar dianggap bahan berbahaya. Karena itu makan kacang yang direbus justru kurang menimbulkan reaksi alergi sebab struktur protein tadi tidak mengalami kerusakan.

Beberapa anak-anak yang punya kecenderungan alergi peanuts pada studi ternyata berasal dari anak-anak yang: 1) terlalu ‘bersih’ (terlalu sering memakai cairan antiseptik); keadaan terlalu bersih melatih sistem imun ‘cari perkara’ karena tak ada lagi bahan berbahaya sungguhan (karena sudah mendapat cairan antiseptik), lantas fokus kerjanya jadi agak menyimpang: bahkan bahan tidak berbahaya tapi struktur proteinnya ‘mencurigakan’ langsung dianggap berbahaya.

2) jarang terpapar sinar matahari; anak begini cenderung kekurangan vitamin D yang terbentuk manakala kulitnya terpapar sinar matahari. Vitamin D membuat sistem imun lebih toleran dan kurang reaktif.

Karena itu, jika anda atau anak anda cenderung punya reaksi alergi (terhadap apapun) cobalah, biarkan secara rutin setiap harinya terpapar sinar matahari; dan latihlah sistem imun untuk ‘mandiri’ tanpa perlu ditolong oleh cairan antiseptik.

Popular Science April 2008

 

Incoming search terms:

Penjaga Pintu Gerbang Maut


 

Pernah nonton film “The Mummy”? Di situ digambarkan betapa seekor kucing sangat ditakuti, dan mampu melumpuhkan kesaktian Sang Mummy, Imhotep. Mengapa? karena (menurut kepercayaan orang Mesir) kucing adalah Sang Penunggu Pintu Gerbang Maut. Masa Mesir purba memang memuja Sang Kucing.

Lepas dari dongeng atau legenda itu, di bawah ini ada kisah nyata tentang “kebenaran” itu.

Kejadiannya ada di Rhode Island, USA, Steere House Nursing & Rehabilitation, yang merawat kaum lansia, terutama yang menderita dementia sehingga memerlukan bantuan perawat untuk menolong dirinya sendiri.

Rumah perawatan itu mempunyai beberapa ekor kucing, salah satunya dinamai Oscar.

Beberapa kali Oscar didapati tidur di kaki seseorang lansia yang ternyata menjelang meninggal, sekitar beberapa jam kemudian.

Oscar biasanya tidak suka ngeluyur, tapi jika ia sampai mendatangi dan menemani seseorang lansia, dapat dipastikan beberapa jam kemudian sang lansia itu menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Seolah Oscar faham betul siapa-siapa yang bakal mati. Ia memang tepat menjadi Sang Penunggu Pintu Gerbang Maut, manakala ada seseorang “antre” di depannya, ia segera sigap siap membukakan pintu.

Salah seorang lansia, Mrs.Richards, menurut penuturan anaknya, Donna, selama hidupnya tidak suka binatang peliharaan, termasuk kucing. Oscar juga tidak mau dekat-dekat dengannya. Tapi suatu malam ia tiba-tiba saja melompat, naik ke ranjang Mrs. Richards, lalu duduk-duduk manis di dekatnya, berbaring melingkar di dekat kaki Mrs.Richards, sambil membiarkan Donna membelainya.

Suatu saat Donna keluar sebentar dari kamar ibunya untuk membeli makan  malam. Ketika ia kembali, didapatinya ibunya sudah meninggal, sambil tersenyum, dan tangannya masih dalam posisi membelai Oscar. Mrs. Richards yang selama hidupnya tidak suka kucing, mati ditemani seekor kucing, bahkan sempat membelainya. Kucing itu menemaninya, memberinya kedamaian di saat terakhirnya.

Suatu ketika Dr. David, dokter khusus rumah perawatan itu menerima seorang pasien yang menurutnya dalam keadaan terminal. Iseng-iseng ia membawa Oscar masuk, mempertemukannya dengan sang pasien, berbisik: “Nah, Oscar, apa pendapatmu?”. Sang kucing cuma menatap Dr. David sejenak, lalu melompat turun dan berjalan keluar. Dan tahukah anda? pasien itu ternyata memang belum saatnya mati. Oscar rupanya belum melihat ia antre di depan pintu yang dijaganya.

Kesaksian  beberapa anak-anak yang menunggui orang tuanya menjelang maut menyatakan betapa kehadiran Oscar dalam kamar itu mampu memberikan ketenangan, kehangatan dan kekuatan bagi yang hendak pergi, maupun bagi para penunggunya. Oscar memberikan dirinya dibelai, baik oleh yang sedang “antre” maupun oleh para pengantar, dan itu sungguh memberikan kedamaian.

Apakah kucing memang punya indera keenam yang mampu menengarai manakala seseorang di ambang maut, ataukah saat seseorang sedang sekarat melepaskan suatu zat kimia tertentu yang dapat dibaui oleh sang kucing?

Dr. David Dosa, RD Feb 2010

Incoming search terms:

Belajar Menerima Perbedaan


Kemampuan menerima perbedaan seharusnya ditanamkan sejak dini pada anak-anak. Kemampuan menerima perbedaan adalah dasar utama berdemokrasi, yaitu kesediaan memahami pikiran dan pendapat orang lain, menghargai suara minoritas dan yang berbeda dengan mayoritas.

Jadi demokrasi bukan mengesahkan keputusan  berdasarkan yang banyak / yang berkuasa yang menang, melainkan menampung semua pendapat lalu mengakomodasikan menjadi keputusan  bersama untuk kebaikan semua pihak, termasuk pihak minoritas.

Celakanya, budaya negara kita,  mulai dari sistem pendidikan sejak masih di taman kanak-kanak, bahkan di play group, sampai di sistem manajemen perusahaan, sudah dibiasakan menghindar dari perbedaan, kemudian menyingkirkan yang berbeda dan minoritas.

Lihat saja pakaian anak sekolah dan pakaian kerja yang diwajibkan seragam, sama rata sama rasa semua kepala dipenggal, yang ada hanya kepala atasan (atau kepala sistem) dengan tubuh mayat-mayat saja. Keputusan selalu dibuat melalui voting suara terbanyak, walau sering suara minoritas banyak yang lebih bermutu, dengan dalih merepotkan. Ingat, suara terbanyak belum tentu yang terbaik, kebanyakan hanya yang tidak merepotkan saja.

Banyak kasus “sweeping” di negeri ini sebenarnya hanyalah perwujudan menyingkirkan yang berbeda.

Pola “pokoknya” adalah contoh kejadian lumrah antar kita untuk menyingkirkan perbedaan.

Sering itu dilakukan atas nama keadilan. Keadilan tidak lagi “memberi porsi perhatian lebih kepada yang kurang mampu” tetapi “memberi lebih kepada saya”.

Menerima perbedaan adalah dasar utama penerimaan pluralisme.

Seharusnya pendidikan, dimulai dari tingkat paling dasar sudah harus dimulai dengan mengenalkan perbedaan, memahami, mengakui, menghargai dan menerimanya, bukan semata-mata membuat anak didik jadi berpengetahuan tapi tidak punya kemampuan bertoleransi dan berefleksi atas diri untuk membentuk sikap hidup yang memahami nilai-nilai kemanusiaan yang beraneka ragamnya.

Tidak heran jika negeri ini tenggelam dalam aneka konflik sebab manusianya sudah tidak mampu lagi memahami dan menerima perbedaan. Lantas berlaku “yang banyak yang punya suara” dan “yang berkuasa yang menentukan nasib semua orang” tanpa celah toleransi dan keadilan berdasar kebenaran.

ST Kartono

Incoming search terms:

Sepuluh Kearifan Krisis


Budaya bangsa bisa menentukan bagaimana seseorang merespon “krisis”.

Orang Indonesia banyak merespon krisis sebagai “malapetaka”; sesuatu yang gawat, genting, yang harus dihindari.

Orang Amerika merespon krisis sebagai titik belok; tanda bahwa ia harus megambil arah baru.

Orang China meresponnya sebagai gabungan dua kata: bahaya dan kesempatan: memakai kesempatan sambil mencegah bahayanya.

Tanpa krisis sebuah bangsa akan menjadi bangsa pemalas. Krisis merangsang pertumbuhan dan perkembangan; jadi bukan untuk dihindari melainkan untuk direspon, disikapi dengan bijak, dengan penuh tanggung jawab; full responsibility. Responsibility = Response-Ability: kemampuan merespon (dengan bijak).

Krisis memaksa seorang menjadi lebih berani, lebih cepat bertindak dalam mengambil keputusan.

Krisis juga memaksa berpikir lebih cerdik, lebih efisien dan inovatif tanpa mengedepankan konflik.

Sepuluh kearifan krisis:

1) krisis selalu terjadi manakala makhluk hidup gagal beradaptasi; jadi belajarlah fleksibel, toleran. Bukan menahan perubahan melainkan menyesuaikan diri dengan perubahan.

2) krisis menghendaki perubahan, reformasi dalam mengatur perilaku; mereka yang “adem-ayem” dalam masa krisis akan habis, tenggelam.

3) menghadapi krisis tidak perlu takut secara berlebihan, sebab bisa menyebabkan kebekuan (immobilized). Tetaplah bergerak dan dinamis.

4) pakai setiap kesempatan di celah-celah krisis itu untuk merebut posisi selagi yang lain masih gamang.

5) krisis memang bisa melenyapkan suatu kesempatan, tapi juga selalu memunculkan kesempatan baru; hendaknya kita jeli menengarainya.

6) saat jalan terasa enak, artinya kita sedang menurun; hati-hatilah; tampaknya saja kita sedang bebas krisis, tahunya sedang menurun! sebaliknya saat jalan terasa berat, ingat itu tanda kita sedang mendaki, jadi pandai-pandailah mengantisipasinya agar mencapai puncak dengan sebaik-baiknya.

7) krisis bukan saatnya untuk mengetatkan aturan tapi saatnya membuka ruang gerak seluas-luasnya agar jika ada kesempatan yang paling kecilpun kita mampu meliuk dan menerobosnya tanpa terkendali aturan dan birokrasi yang kaku dan baku.

8) krisis adalah saatnya berinvestasi. Jika sudah membaik itu saatnya memanen. Jika berinvestasi saat membaik itu artinya terlambat sudah.

9) saat krisis perlu prihatin tapi juga perlu memelihara optimisme dan berpengharapan sebab inilah sumber energi kita.

10) saat krisis pakai otak dan hati: dengan perhitungan cermat dan data-data selengkap mungkin tapi jangan lupakan naluri dan firasat. Sering naluri dan firasat muncul begitu saja manakala sedang dalam krisis, sering itu bisa sangat berarti. Berlatihlah untuk peka terhadapnya.

Disarikan dari Kompas, 2009, Rhenald Kasali

Incoming search terms: