Bagaimana tanggapan unik berbagai negara untuk mengatasinya.
(Sayang Indonesia tak termasuk yang disurvei, hanya disinggung sedikit di bawah nanti)
Prosentase masyarakat (perempuan) yang punya program penurunan berat: tiga besar: Finlandia (83%), Belanda (73%), Australia & USA (72%).
tiga terbawah: Rusia (33%), Hungaria (24), India (21).
Kaum wanita negara yang mengakui stres karena kegemukan dan karenanya punya tekad kuat dengan program penurunan berat badan: tiga besar: Brazil (83%), India (68%), USA (62%). tiga terbawah: Mexico (38%), Rusia (36%), Hungaria (28%).
Negara di mana kaum wanita menghendaki suami mereka yang gemuk mempunyai program menurunkan berat: USA (51%);
yang suaminya ingin istri mempunyai program menurunkan berat: India (48%), USA (47%).
Negara yang masyarakatnya (mayoritas kaum wanitanya) punya program menurunkan berat melalui obat-obatan dan suplemen makanan: China (48%), Brazil (30%), Rusia (24%); walaupun mereka mengakui, penurunan berat lewat obat-obatan dan suplemen makanan itu sangat beresiko; mereka memakainya karena ‘lebih mudah’ sebagai jalan pintas.
Remaja yang mengalami kegemukan, tiga besar: India (44%), China (34%), Mexico (27%). Tiga terbawah: Finland (13%), Prancis (9%), Hungaria (6%).
Masyarakat negara yang dianggap paling berhasil dengan program menurunkan berat: Mexico (93% melalui kontrol makan, 86% melalui program fisik).
Negara yang mempertimbangkan berat badan ideal sebagai tolok ukur diterima di pekerjaan: India (67%), Jerman dan Filipina (52%), USA (41%).
Upaya unik di beberapa negara
Thailand: menambahkan bumbu merica pada makanan; ternyata merica menaikkan metabolisme sehingga memperkecil pengubahan kalori menjadi lemak. Merica (bukan cabai) cenderung membuat orang makan lebih lambat dan lebih mudah terasa kenyang.
United Kingdom (Inggris Raya): memperkecil porsi makan: semua rumah makan diinstruksikan memperkecil standar porsi.
Brazil: mengganti gandum dengan nasi dan ‘bean’ (polong-polongan). Bean mengenyangkan tapi kurang menggemukkan.
Indonesia: beberapa orang memakai kesempatan bulan puasa untuk menurunkan berat. Tapi harus dijaga juga agar tidak terkena efek sampingnya: pertama, berbuka puasa (yang umumnya) dengan manis-manis memperberat kondisi kegemukan, plus bisa memicu munculnya diabetes mellitus (kencing manis); kedua, usai bulan puasa secara tak sadar ‘mengejar ketertinggalan’ dengan menambah porsi sehingga bahkan bertambah gemuk; ketiga, puasa yang menurunkan berat adalah puasa energi / kalori (makan) tapi seharusnya dengan ekstra minum (yang tak diperbolehkan), sebab detoksikasi yang esensial dalam upaya pelarutan lemak tubuh baru terjadi dalam suasana air yang cukup dalam tubuh; artinya cukup minum secara merata.
Polandia: membiasakan makan di rumah sebab kontrol menu bisa lebih baik. Menghindari fast food yang kalorinya sulit dikontrol.
Jerman: membudayakan makan pagi banyak, makan malam sedikit.
Belanda: mendorong masyarakat naik sepeda sebagai kegiatan rutin harian, termasuk berangkat dan pulang kerja (bukan sekadar kegiatan rekreasi sewaktu). Juga mendorong makan ikan air: omega-3 dari ikan mengurangi pelepasan hormon kortisol yang memicu penumpukan lemak di perut. Ikan dapat dimakan sebagai snack berupa ikan mentah yang dicelup cuka.
Prancis: membudayakan makan sembari ngobrol; ngobrolnya lebih utama ketimbang makannya, akibatnya makan cuma sedikit (cepat kenyang). Memperkenalkan budaya ‘konferensi meja makan’ dalam keluarga (sekalipun keluarga hanya berisi suami dan istri) yang intinya makan sembari ngobrol.
Swis: mengganti karbohidrat makanan utama (gandum dan nasi) dengan oats yang kaya serat dan miskin kalori.
Rusia: mendorong lebih banyak vegetarian (menu utama sayur dan buah)
Malaysia: memperkaya bumbu kunyit yang terbukti pelarut lemak yang bermakna
Finland: mendorong olah raga jalan cepat dengan kedua tangan memakai sepasang tongkat jalan yang beratnya dapat diprogram (membakar kalori dari aktivitas tungkai plus lengan) –dikenal dengan ‘Nordic’.
Afrika Selatan: memperbanyak minum teh rooibos (sejenis teh hijau yang sudah punya nuansa manis sehingga tidak memakai gula); rooibos dan teh hijau juga melambatkan penyerapan lemak.
Hungaria: mendorong snack bahan sayur dan buah: mentimun, kubis (terutama yang berwarna), tomat, celery, bell pepper, paprika, brokoli dan batang brokoli, bean (polong-polongan). Dimakan dengan dicelup cairan mengandung cuka, seperti mayonaise dan beberapa dressing salad tertentu. Asam cuka membantu mengurangi pembentukan lemak, menurunkan tensi dan kadar gula darah.
Norwegia: mendorong hiking sekeluarga seminggu sekali (bukan duduk-duduk santai sambil makan); sama dengan Finland, dengan gaya ‘Nordic’ (memakai sepasang tongkat jalan)
India: mendorong yoga secara terprogram; yoga mengharuskan perut dalam kondisi kosong; yoga sangat memperkuat tekad untuk tekun mengikuti program penurunan berat badan.
Jepang: tidur malam 7 jam, nap (tidur siang) 1 jam. Cukup tidur akan mengisyaratkan badan agar tidak menimbun lemak berlebihan. Kurang tidur melepaskan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar, cukup tidur melepaskan hormon leptin yang menyebabkan rasa kenyang.
Mexico: makan malam minim, makan pagi secukupnya, makan siang banyak. Kenyataan menunjukkan makan malam minim menyebabkan makan pagi berlebihan, maka harus dikendalikan. (agak beda dengan gaya Jerman).
Korea, Singapore: membudayakan gosok gigi setiap usai makan, terutama dengan pasta gigi mengandung ‘mint’; menurunkan rangsangan makan (lagi).
Last but not least
Sebuah perusahaan pakaian mempopulerkan sebuah ‘vest’ (blazer, rompi) yang unik, dibuat punya ventilasi baik, dari bahan yang menyerap keringat dan dengan disain cantik/gagah, yang punya beberapa kantong khusus untuk diisi dengan lempengan stainless dengan berbagai berat, mulai dari total berat ½ kg sampai total berat 5 kg. Konon dijamin, jika anda jogging atau jalan cepat/aerobik secara teratur/terprogram mengenakan rompi ini, menolong pemadatan tulang dan menurunkan berat badan secara efektif. Hubungi: nykny.com
Reader’s Digest, Feb 2010
Joe Kita: The Weight of the World
Incoming search terms: