1) Para bintang rock cepat menanjak tapi juga cepat mati.
Ketenaran yang diperoleh dengan cepat ternyata ‘memakan’ terlalu banyak energi pada periode pendek, apalagi energinya sebagian besar adalah energi mubazir sebab mengenai hal-hal yang abstrak (emosional), sehingga seolah ia cepat menua juga. Ada sebab lain, biasanya ketenaran yang melejit begitu cepat membawanya kepada kehidupan yang nuansanya egosentris, yang apa boleh buat sebab semua penggemarnya terlalu sering dan terlalu banyak mengagulkan dirinya.
Untuk direnungkan: para remaja kita yang memuja mereka ternyata juga bisa tertular demam egosentrisme, yang membawanya pada berbagai masalah emosional, dan pada akhirnya juga sama-sama menderita ‘mati muda’. Para orang tua diharapkan membimbing mereka untuk boleh saja menjadi penggemar tapi tidak perlu sampai ‘berani mati (atau berani berbuat apapun yang sering tak masuk akal) demi Sang Pujaan’ (yang bakal mati muda).
2) Kaum remaja masa kini, dan juga kaum intelek semacam manajer, pegawai kantoran, memakai 95% waktunya untuk duduk dan tidur. Ini pada akhirnya membawa efek kegemukan dan jantung yang tidak sehat. Kalaupun disarankan berolah raga, ternyata hanya 15% yang menanggapi positif. Karena itu disarankan, saat kerja, atau saat di rumah, memperbanyak berdiri, berjalan. Misalnya saat menerima telpon, usahakan sambil berdiri. Masih banyak kegiatan harian yang sederhana yang dapat anda lakukan sambil berdiri ketimbang duduk.
3) Pasien yang dibawa dengan ambulans, lebih jauh jaraknya, lebih besar kemungkinannya mati atau cacat tetap.
Suasana ambulans yang sempit, penuh alat yang esensial tapi sering tidak sepenuhnya difahami pasien secara tak sadar membawanya lebih dekat ke kematian.
Disarankan, pusat-pusat pertolongan yang lebih tersebar sehingga lebih banyak bisa dijangkau ambulans tanpa harus melewati jarak-jarak jauh. Menata interior ambulans menjadi sesuatu yang ramah pasien, tidak semata-mata untuk keperluan pertolongan fisik, sebab pertolongan bagi pasien tidak melulu fisik tapi juga emosi.
4) Kesepian mencekam
Pada usia 50 tahun ke atas, potensial seseorang mengalami kesepian semakin besar. Efek kesepian ini, tak selalu pada sisi emosional (perasaan kesepian, mudah cemas, mudah kuatir, depresi, sedih, marah), tapi ternyata juga efek fisik: naiknya tensi dan kadar gula darah serta kholesterol. Sekali lagi ini adalah efek stresor kortisol.
Karena itu usahakan anda selalu hidup dalam lingkungan persahabatan sejati yang bersedia saling berbagi.
5) Remaja yang gila HP, atau games, atau i-pod, pemutar musik, perangkat eksotik lainnya atau minum, merokok, ternyata bermula dari kurangnya diri merasa berharga. Seolah dengan memiliki HP (apalagi yang mahal) atau memasang ear phone sambil mendengarkan musik sambil jalan kian-kemari bakal menaikkan harga dirinya.
Sangat memprihatinkan, sebab kenyataan menunjukkan mayoritas perilaku seperti itu justru menunjukkan betapa konyol dirinya di depan orang lain. Itu hanya harga diri semu. Studi menunjukkan justru orang-orang akan memandangnya dengan sebelah mata.
Para orang tua, guru dan para senior diharapkan membantu para remaja ini menemukan harga diri mereka dengan karya nyata, dan berani membukakan mata mereka akan kekonyolan mereka itu. Tapi juga secara jujur mau memberikan pengakuan dan penghargaan kepada setiap hasil karya mereka.
6) Kopi atau tidur?
Kalau kita ngantuk di tengah perjalanan, mana yang paling dapat menolong?
Pada usia muda ‘nap’ sejenak bisa menolong, tapi di atas usia 50 tahun sering nap tidak cukup, tapi memang harus tidur. Dalam hal ini kopi (pahit, black coffee) yang diminum tiap 45 menit – 1 jam bisa menolong. Kopi baru bereaksi setelah kira-kira 30 menitan, dan bertahan sampai sekitar 45 menit – 1 jam. Minumlah kopi dalam jumlah sedikit-sedikit (100 cc) tiap 45 menit – 1 jam, daripada sekaligus minum 1 gelas (250 cc), sebab lamanya bertahan sama-sama hanya 45 menit – 1 jam, walau 250 cc atau bahkan 350 cc sekaligus. Dosis kopi yang memadai adalah sekitar 60-100 cc sekali minum untuk jangka 45 menit – 1 jam.
7) Remaja yang kurang trampil olah raga (di sekolah) ternyata juga kurang populer. Studi menunjukkan bukan pada ketrampilan olah raganya, tapi pada saat sama-sama kumpul untuk sama-sama berolah raga itulah yang bisa membuat kepribadian sang remaja jadi terbuka, dan itu jalan masuk untuk bisa disukai sesama teman.
Berlibur paling efektif adalah tanpa membawa HP. HP secara tak sadar adalah sarana yang bisa menjajah kepribadian kita, dan karenanya sangat mengurangi efektivitas liburan.
Walau begitu, liburan tanpa HP, tapi secara emosional anda masih was-was kalau-kalau ada telpon penting yang terlewatkan juga tidak akan menolong memperbaiki keadaan. Yang benar adalah: sebelum berangkat liburan, delegasikan kepada orang lain yang anda percaya, lalu tegaskan bahwa anda tidak membawa HP, dan karenanya jangan coba mengontak. Setelah itu, serahkan saja semuanya pada ‘nasib’ dan yakinlah bahwa pada akhirnya semuanya akan berakhir baik.
9) Mana lebih baik menunjukkan arah, laki-laki atau perempuan?
Gaya laki-laki kalau menunjukkan arah lebih banyak pada: “ke timur sekian meter (atau sekian menit berjalan) lalu belok ke utara dua blok… dst.”
Gaya perempuan: “kalau sudah ketemu Mal Ambarukmo, gang berikutnya belok kiri, sampai jembatan kedua, belok kanan, sampai ketemu pohon randu alas…dst”
Jadi laki-laki orientasinya pada geografi, perempuan pada tanda fisik.
Ini berkenaan dengan pada masa primitif, laki-laki umumnya adalah pemburu (hunter). Ia harus mengejar buruan sampai sangat jauh, dan ia harus bisa kembali dengan cepat. Ia tak cukup hanya memakai tanda-tanda fisik (adanya pohon tertentu, atau batu karang tertentu) sebab tanda fisik pada jarak begitu jauh bisa tidak hanya satu-dua, dan bisa sama bentuknya; ia memerlukan kondisi geografi seperti peta yang rinci. Perempuan, umumnya pengumpul makanan (gatherer), dan untuk itu ia harus faham tanda-tanda fisik lokasi diperolehnya buah-buahan dan sumber makanan lain, tidak cukup hanya membaca peta tapi harus membaca tanda fisik (di depan batu karang hijau itu tumbuh jamur yang bisa dimakan).
Karena itu, laki-laki, bertanyalah arah kepada sesama laki-laki. Kalau yang ada perempuan, mintalah rekan seperjalanan anda yang perempuan untuk bertanya kepadanya.
10) Mengapa beberapa anak secara khusus alergi terhadap kacang-kacangan (peanuts) dan olahannya (seperti peanut butter).
Reaksi alergi timbul ketika sistem imunitas tubuh secara berlebihan (hiper reaktif) melawan sesuatu bahan, yang disangkanya benda asing berbahaya. Sistem ini sangat esensial mencegah tubuh kemasukan bahan berbahaya, memang; tapi kalau bahan yang sebenarnya tidak berbahaya dan sistem ini bekerja juga, apalagi secara berlebihan, maka terjadilah reaksi yang bermacam ragam, yang dikenal sebagai reaksi alergi.
Mengapa justru peanuts: karena beberapa protein dalam peanuts memang cenderung punya struktur yang berdekatan dengan struktur molekul benda yang ‘berbahaya’ (ada kemiripan). Apalagi jika peanuts diolah dalam suhu tinggi seperti dipanggang (roasted), yang menyebabkan struktur protein tadi semakin amburadul dan berpotensi besar dianggap bahan berbahaya. Karena itu makan kacang yang direbus justru kurang menimbulkan reaksi alergi sebab struktur protein tadi tidak mengalami kerusakan.
Beberapa anak-anak yang punya kecenderungan alergi peanuts pada studi ternyata berasal dari anak-anak yang: 1) terlalu ‘bersih’ (terlalu sering memakai cairan antiseptik); keadaan terlalu bersih melatih sistem imun ‘cari perkara’ karena tak ada lagi bahan berbahaya sungguhan (karena sudah mendapat cairan antiseptik), lantas fokus kerjanya jadi agak menyimpang: bahkan bahan tidak berbahaya tapi struktur proteinnya ‘mencurigakan’ langsung dianggap berbahaya.
2) jarang terpapar sinar matahari; anak begini cenderung kekurangan vitamin D yang terbentuk manakala kulitnya terpapar sinar matahari. Vitamin D membuat sistem imun lebih toleran dan kurang reaktif.
Karena itu, jika anda atau anak anda cenderung punya reaksi alergi (terhadap apapun) cobalah, biarkan secara rutin setiap harinya terpapar sinar matahari; dan latihlah sistem imun untuk ‘mandiri’ tanpa perlu ditolong oleh cairan antiseptik.
Popular Science April 2008
Incoming search terms: