Kematian wajar setiap insan umumnya disebut juga ‘mati karena usia’. Apa yang mendorong kematian ‘wajar’ itu?
Ada 3 hal pokok yang saling berkaitan, yang semuanya berhubungan dengan kematian sel: 1) telomere yang kelewat pendek, 2) radikal bebas, 3) mitochondria yang sudah tak mampu bekerja optimal.
Sedikit penjelasan:
1) tentang telomere
Telomere adalah gugus basa DNA yang terdiri dari 2 thymine, 1 adenine dan 3 guanine (TTAGGG) yang menempati ujung dari pita chromosome. Pada waktu pembelahan sel, chromosome membelah, dan telomere menjaga agar hasil belahan chromosome tidak ruwet. Ibaratnya seperti pita plastik atau aluminium yang membungkus ujung tali sepatu agar serat tali sepatu ujungnya tidak ruwet atau terpecah-pecah. Saat pembelahan chromosome, telomere juga ikut membelah, hasil pembelahannya terbagi sama ke chromosome hasil belahan. Tapi ternyata dengan bertambahnya usia, telomere saat pembelahan tidak terbelah sempurna; hasilnya telomere hasil belahan berkurang (memendek). Ini tidak mengganggu chromosome, tapi ketika telomere sudah sedemikian pendek sehingga tidak lagi bisa membelah, chromosome juga tidak lagi bisa membelah, sel menjadi tua tanpa dapat diperbarui lagi, lalu mengalami kematian spontan.
Diperkirakan telomere saat lahir mengandung gugus basa DNA sebanyak 10.000 pasang, tapi mulai usia 20-an tahun, telomere mulai mengalami pemendekan, sekitar 50 pasang basa DNA setiap tahunnya. Jika jumlah gugus basa DNA mencapai 5000-an maka kemampuan sel untuk membelah (dan memperbarui diri) sudah habis, sel mengalami kematian. Semakin banyak sel mati, semakin menurun fungsi organ, maka itulah proses penuaan itu, sampai akhirnya jumlah sel yang mengalami kematian sudah mencapai nilai ambang tertentu, maka itulah saatnya kematian menjemput.
2) Radikal bebas.
Radikal bebas terbentuk pada setiap metabolisme yang menghasilkan energi. Radikal bebas pada mulanya dibutuhkan untuk ‘membakar’ benda-benda asing yang secara rutin merasuki tubuh manusia. Jika ada sisa radikal bebas, maka tubuh akan menetralkannya dengan anti oksidan.
Tapi memasuki usia tertentu, radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh menetralkan dengan anti oksidan, akibatnya radikal bebas akan bereaksi dengan lemak dan kholesterol, membuat kholesterol jadi tidak ramah lagi, sebab lantas melekat pada dinding pembuluh darah dan meracuni selaput pembungkus syaraf, akibatnya terjadilah gangguan pembuluh darah dan syaraf, yang buntutnya kematian atau mimimal cacat. Ini termasuk bagian dari skenario kematian.
3) Mitochondria yang tidak optimal.
Mitochondria adalah bagian dari sel yang khusus bekerja menghasilkan energi yang dibutuhkan agar sel tetap hidup. Memasuki usia lanjut, kerja mitochondria ini mulai kacau, tidak efektif lagi menghasilkan energi, sehingga sel tidak lagi bisa dihidupi karena ketiadaan energi. Apalagi ngawurnya lagi mitochondria, ia malah menghasilkan radikal bebas.
Sampai kini dipercaya mitochondria asal mulanya adalah makhluk hidup tersendiri (jenis ricketsia), lantas dengan terbentuknya sel, ia melebur, bersimbiose mutualistis dengan sel, ia mendapat pasokan bahan mentah, tapi ia juga harus menghasilkan energi bagi imduk semangnya.
Pada usia lanjut, mekanisme simbiose mulai terganggu, filosofinya: sama-sama makin tua makin rewel. Inilah awal tanda mendekatnya kematian.
Seorang ilmuwan, Bill Andrews, mengadakan banyak eksperimen untuk mengatasi penyebab kematian sel itu. Belum banyak berhasil, tapi sudah memperlihatkan beberapa tanda positif. Inilah hal-hal yang telah dicapainya sejauh ini; kalau kita ingin sedikit bisa memperpanjang umur sel dalam tubuh kita, barangkali ada harganya kita mempraktekkannya.
1) upaya mempertahankan telomere.
telah ditemukan suatu zat, telomerase, yang dapat mempertahankan keberadaan telomere sehingga tidak tergesa-gesa memendek. Sekarang tinggal bagaimana tubuh memperolehnya.
Beberapa hasil percobaan menunjukkan antara lain hormon estrogen berperan menghadirkan telomerase itu, tapi pada usia lanjut estrogen memang sudah menurun jauh. Penambahan estrogen buatan beresiko kanker. Yang diduga masih aman untuk meningkatkan estrogen adalah fito estrogen (estrogen berasal dari tanaman), misalnya dari kedelai dan hasil ikutannya (susu kedelai, tahu, tempe).
Keberadaan testosteron juga kemungkinan memperbesar peluang hadirnya telomerase. Testosteron bisa dimunculkan lagi ketika seseorang memelihara kehidupan seksualnya (baik laki-laki maupun perempuan), atau secara terprogram melakukan hal-hal yang bernuansa tantangan atau sesuatu yang menggairahkan (exciting, excited), misalnya olah raga yang menantang, program-program sosial yang menantang, semangat berkorban, semangat ‘menyalibkan diri’ demi keselamatan orang lain. Sebaliknya hal-hal yang nuansanya egosentris dan pemuasan diri-sendiri justru menjauhkan dari munculnya testosteron, artinya menjauhkan kehadiran telomerase.
Suplemen herbal, antara lain yang mengandung ‘astragalus’ (kebanyakan ada pada obat-obat Tionghoa).
2) Radikal bebas.
Yang ini sudah gamblang, ketika orang zaman kini berbondong-bondong ‘keranjingan anti oksidan’. Satu kenyataan tentang radikal bebas, jika anda ingin mengurangi produksi radikal bebas dalam tubuh anda, kurangi porsi makan anda, sebab radikal bebas selalu terbentuk manakala tubuh sedang mencerna makanan penghasil energi. Jadi, banyak-banyak makan sayuran sebab hanya sayuranlah yang hasil metabolismenya tidak banyak menghasilkan energi (dan radikal bebas). Gula, tepung (nasi, gandum) dan lemak (sumber kholesterol dan trigliserida) paling banyak menghasilkan energi (dan radikal bebas). Selain itu oksigenasi yang optimal atas organ-organ, termasuk sel-sel juga ikut membantu pertahanan menghadapi radikal bebas. Dan cara paling gampang adalah dengan program aerobik yang teratur tiap hari. Ada yang menyarankan 5 kali seminggu, sebab badan juga membutuhkan waktu untuk ‘recovery’ setelah program latihan fisik itu, dalam seminggu 2 hari.
Akan halnya radikal bebas yang berasal dari luar, hindari semua jenis polusi, terutama dari golongan asap, termasuk asap rokok sebab radikal bebas yang langsung masuk dan langsung merusak adalah yang masuk melalui paru-paru.
3) Mitochondria.
Meyakini kehadiran mitochondria sebagai ‘sesama makhluk’ yang bersimbiose dengan sel dalam tubuh kita, kita perlu ‘mengembalikan’ suasana saling menguntungkan antara ‘makhluk’ mitochondria ini dengan ‘induk semang’ sel tubuh kita (dengan kita secara keseluruhannya). Caranya: mengurangi beban kerja mitochondria: menghindari energi yang ‘sia-sia’, seperti stres (distress), kekuatiran, kecemasan, depresi, nelangsa, dendam, amarah. Pada saat kondisi seperti itu tubuh sebenarnya tidak membutuhkan energi ekstra, tapi efek stresor selalu meningkatkan hormon kelompok kortisol yang membutuhkan pengadaan energi ekstra, yang artinya membebani mitochondria (yang sudah mulai uzur) bekerja ekstra untuk energi yang akhirnya tak terpakai sebab stres kita bukan stres yang membutuhkan energi fisik. Nah, kalau sering-sering mubazir begitu, agaknya si ‘makhluk’ mitochondria kita ini juga jadi ‘kesal hati’ lantas mulailah ia ngawur.
Jadi mengelola stres dengan bijak seperti latihan meditasi, aerobik, kehadiran sahabat, kerja sosial, aktif kumpulan kelompok sosial, kehidupan spiritual yang benar sangat menolong keadaan ini.
Ada yang mempertanyakan kebenaran teori ini, sebab kenyataannya sel yang paling sering mengalami kematian awal adalah sel otot jantung dan syaraf/otak, yang selnya justru memang tidak pernah membelah/memperbarui diri. Dr.Andrews menjawab: kematian sel pada jantung dan syaraf/otak disebabkan lebih banyak karena sel pendukungnya yang sudah tak mampu memperbarui diri: dalam hal jantung adalah sel endotel, yang seharusnya selalu diperbarui (dan karenanya harus sering membelah diri); dalam hal sel syaraf dan otak adalah sel glia dan sel schwann yang bertugas menjaga keutuhan dan kehidupan sel syaraf, dan sel glia dan scwann memang selalu memperbarui diri.
Dr.Andrews juga memperingatkan, kehadiran telomerase yang terlalu banyak juga beresiko menjadikan sel tidak bisa mati dan selalu membelah sehingga potensial menjadi kanker.
Joseph Hooper, The Man Who Would Stop Time, Popular Science, August 2011
Incoming search terms: