Kasih Ibu

Seorang anak yg mendapati ibunya sdg sibuk di dapur.

Lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas.

Ibu menerima kertas tsb & membacanya.

 

Ongkos upah membantu Ibu :

- Membantu ke warung 20rb

- Menjaga adik 20rb

- Membuang sampah 5rb

- Membereskan t4 tdr 10rb

- Nyiram bunga 15rb

- Nyapu lantai 15rb

Jumlah seluruhnya : 85rb

 

 

Selesai membaca, Ibu tersenyum, mengambil pena & menuLis dibelakang kertas yg sama :

 

- Mengandung selama 9 bLn.

GRATIS

- Jaga malam karena menjagamu

GRATIS

- Airmata yg menetes karenamu.

GRATIS

- Khawatir memikirkan keadaanmu

GRATIS

- Menyediakan makan, minum, pakaian & keperluanmu.

GRATIS

Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku.

GRATIS

 

Air mata anak berlinang, lalu dia memeluk ibunya & berkata :

“Saya Sayang Ibu”.

Lalu dia mengambil pena & menulis dikertas : “LUNAS”

Incoming search terms:

Ibu dan Anak nakal di kereta

Cerita ini diadopsi & dimodifikasi dari buku Stephen R. Covey “Seven Habits of Highly Effective People”.

 

Dlm suatu perjalanan, kereta api memperlambat lajunya & berhenti di suatu stasiun.

 

Naiklah seorang ibu dgn 2 anaknya yg msh kecil2 ke dlm salah 1 gerbong.

 

Penumpang sdh ckp padat. Beruntung sang ibu & ke2 anaknya bs mendapatkan tempat duduk.

 

Awalnya ke2 anak kecil itu duduk tenang. Tdk lama kemudian, mereka mulai berlarian sambil ber-teriak2.

 

Mereka jg naik ke tempat duduk, menarik bacaan para penumpang. Ke2nya membuat suasana jd gaduh & tdk nyaman.

 

Stlh ckp lama menahan diri, seorang bpk yg duduk di sebelah sang ibu menegur, ‘Kenapa anda membiarkan saja ke2 anak anda membuat ribut & mengganggu seisi gerbong?’

 

Seakan baru tersadar,

sang ibu menjawab perlahan, ‘Saya masih bingung bagaimana menjelaskan kpd mereka begitu kami sampai di RS utk menjemput jenazah ayahnya.’

 

Ternyata sang ibu mendapat pemberitahuan bahwa suaminya sdh menjadi jazad di RS karena meninggal dlm kecelakaan.

 

Dia sekarang dalam perjalanan dgn anaknya ke RS.

 

Seketika si bapak yg bertanya terdiam.

Segera dari mulut ke kuping tersebar informasi tsb & semua penumpang yg tadinya merasa terganggu, berganti iba & simpati.

 

Awalnya yg marah kpd anak2 yg gaduh & ibunya yg terlihat cuek, skrng sebagian penumpang malah mulai ikut bermain & bercanda dg ke2 anak itu.

 

Stlh mengetahui lengkap/persis apa yg terjadi, reaksi penumpang berbalik 180 derajat.

 

Demikianlah dlm kehidupan. Mengetahui lengkap dibanding hanya sebagian, sangat mungkin membuat perbedaan respon seseorang terhadap suatu mslh/kejadian.

Incoming search terms:

Otak Di Masa Lansia


Time, 23-1-2006

Mengapa ada ungkapan “makin tua makin bijaksana”?

Ternyata pada usia di atas 50 tahun mulai terjadi kelenturan / plastisitas jaringan otak yang menakjubkan.

Semula mungkin memang dimaksudkan agar suatu sentra bisa menggantikan atau melengkapi kerja sentra lain yang mengalami kemunduran, tetapi kemudian gejala ini menunjukkan daya lentur menakjubkan. Salah satu contohnya adalah: otak kiri (sentra logika) dan otak kanan (sentra emosi) bisa saling mengisi dan melengkapi. Karena itu apa yang pada usia muda sering muncul perilaku “emosional”, atau perilaku “tidak manusiawi” pada lansia bisa dikurangi atau malah menghilang sebab koordinasi emosi dan logika bisa saling melengkapi.

Masih banyak sentra lain yang juga semakin trampil untuk saling mengisi dan melengkapi, antara lain justru pada usia di atas 50 tahunlah pusat pembangkit ide (kreativitas) yaitu lobus frontal dan temporal punya perkembangan jaringan interkoneksi syaraf yang paling kaya.

Begitu pula kemampuan menyesuaikan diri atas kemunduran salah satu bagian otak bisa dengan cepat diimbangi bagian otak yang lain; bahkan misalnya bisa tampak perubahan perilaku, yang semula agresif (hiper emosi), mundur menjadi lebih tenang (lebih bijak); walau patut diwaspadai juga sebab juga potensial sampai menjadi depresif dan apatis (hipo / anemosi).

Tahun-tahun terbaik kaum lansia adalah mereka yang tetap setia dan aktif secara sosial dan tetap rajin belajar, bermain musik, bernyanyi terlebih dalam suatu paduan suara atau orkestra, sebab di situlah daya lentur otak benar-benar terbentuk.

Jeffrey Kluger

 

Sekarang bagaimana dengan lansia yang “tidak lentur”, sebab ternyata cukup banyak kaum lansia yang semakin tua semakin cenderung marah, agresif, atau defensif, depresif, rewel dan lain-lain? Bukannya menjadi bijaksana.

Kepikunan progresif memang bisa terjadi bersamaan, baik pada sentra, maupun pada jaringan interkoneksi. Jika itu yang terjadi, maka kemunduran sentra tidak ada lagi yang bisa menutup, sebab jaringan interkoneksi ikut mundur. Inilah stadium kepikunan progresif yang harapan ke depannya suram, sebab selama ini yang masih bisa diandalkan untuk bisa menunda laju kepikunan hanyalah pada faktor jaringan interkoneksi. Sentra boleh mundur tapi selama jaringan dapat dirangsang untuk membaik, maka kemunduran suatu sentra dapat ditutup sentra yang lain. Inilah juga asal muasal gejala yang dikenal sebagai “post power syndrome”. Pada hakekatnya post power syndrome disebabkan karena ketidak seimbangan antara pusat emosi dengan pusat logika; ketika info dari pusat emosi berkonflik dengan info dari pusat logika. Konflik ini bisa teratasi jika kemudian muncul interkoneksi, atau inter komunikasi antara kedua pusat itu.

Konflik bisa timbul:

a) manakala ada gangguan psikologik atau sosio-psikologik karena konflik antar sesama manusia, apalagi yang menyangkut orang-orang terdekatnya; biasanya ini gangguan sementara; ketika proses psikologik dapat diatasi, gejala itu juga menyurut;

b) manakala masing-masing pusat mengalami kemunduran tanpa ada pusat-pusat lain yang menolong menutup kemunduran itu; inilah bagian dari kepikunan progresif di atas.

Jadi hati-hatilah, jika ada seseorang tertimpa post power syndrome, jangan-jangan sebenarnya ia sedang memulai proses kepikunan progresif pada kedua faktor tadi: ada baiknya segera berupaya keras menundanya.

Incoming search terms:

Mengelola Stres (Distress)


 

Distress muncul dari pengelolaan stres yang tidak memadai.

Mari kita mengelolanya setelah memahami mengapa stres muncul.

 

1) Tekanan pekerjaan.

Kebanyakan pekerjaan terasa menekan karena kurang jelasnya hubungan antara perlunya upaya keras dengan reward atau hasil yang diharapkan. Karena kadang hasil yang diharapkan dan/atau reward yang bakal diterima sulit diprediksi, maka sebaiknya anda berfokus hanya pada seberapa keras anda mampu berupaya, lantas langsung saja memberi diri secara total (atau optimal) tanpa mencoba melihat apa reward-nya (atau hasil). Pakailah filosofi; “dari sisi saya, sudah saya berikan totalitas saya”.

Kebanyakan orang merasa stres (distress) karena menempatkan harapan akan reward dan hasil di atas upayanya sendiri.

 

2) Distress juga muncul manakala anda kehilangan fokus karena pekerjaan kurang memberikan kejelasan mana fokus utama dan mana yang sekunder. Jadi sejak awal, hendaknya anda sudah mulai berfokus dan curahkan totalitas anda di situ, baru jika ada kesempatan, juga memikirkan fokus sekundernya.

 

3) Distress juga muncul ketika anda ragu hendak mulai dari mana. Pakailah filosofi: “mulai saja”. Setiap penundaan justru menambah kadar distress anda.

 

4) Tidak usah berharap kesempurnaan hasil. “cukup baik” sajalah, dengan catatan saya sudah memberikan totalitas saya.

 

5) Mengandalkan diri anda sendiri lebih ketimbang mengandalkan orang lain. Filosofi anda: insan yang paling peduli dengan keberhasilan anda adalah anda sendiri.

 

6) Tetap jeli melihat kesempatan; begitu mulai tampak ada kesempatan jangan ragu untuk berupaya mencapai yang tertinggi yang dapat anda capai. Kebanyakan distress muncul manakala anda menyadari anda telah melepaskan sebuah kesempatan yang seharusnya dapat anda petik.

 

7) Sadari saja, “cukup” itu tak pernah  bakal tercapai, jadi tak usah terfokus ke “cukup”. Lagipula cukup adalah “hasil” atau “reward”, padahal filosofi anda aedalah “upaya totalitas” bukan “hasil” atau “reward” (lihat atas).

 

8) Salah satu pedoman manajemen yang cukup terkenal yang perlu anda fahami juga: “pedoman pertama: boss tidak pernah salah; pedoman kedua: jika ternyata boss salah, lihat pedoman pertama untuk menyelesaikannya.”

Filosofi: anda hanya akan babak-belur (dan distress) jika bermaksud melawan boss anda.

 

9) Anda merasa tidak disuka? tidak populer? tidak diindahkan/tak didengar? tak dihargai? just relax…. anda tidak sendirian. Di Bumi ini memang ada banyak ketidak adilan, dan prosentasenya… 74%! Jadi… anda termasuk normal sebab masuk dalam mayoritas, ngapain distress. Hanya saja… ada baiknya anda mawas diri juga, membuka mata, telinga dan hati, siapa tahu ada tips (hints) yang dapat menggeser anda untuk masuk ke minoritas yang 26%; bagaimanapun pada kedudukan itu tekanan stres anda akan jauh berkurang.

Steve Tobak, RD March 2011

 

Incoming search terms:

Attitude


 

Attitude adalah sikap, sikap hidup, pandangan hidup, sikap hidup yang mewujud dalam perilaku yang nampak.

Attitude bisa menentukan kebahagiaan hidup.

Ada yang mengatakan, attitude ditentukan oleh kepribadian seseorang. Kepribadian bisa tercetak dalam diri seseorang, sedang attitude bisa dimunculkan oleh seseorang ketika ia menjalani hidup.

 

1) Jika anda ingin menggapai kebahagiaan, jangan biarkan attitude anda ditentukan oleh orang lain. Anda bisa menentukan sendiri attitude anda. Jika seseorang bersikap tidak baik kepada anda, anda bisa ikut mempunyai sikap tidak baik, seolah hendak membalasnya, tapi ini tidak akan membawakan kedamaian dan kebahagiaan kepada anda. Ambillah sikap terbaik yang bisa anda munculkan betapapun orang di hadapan atau di sekeliling anda bersikap.

Karena itu attitude harus diiringi atau didahului oleh kesadaran diri dan tekad.

Bentuklah sikap hidup yang bertanggung jawab dan berpola menikmati hidup sepenuhnya, dan jangan mau dirusak oleh attitude orang lain.

Kebahagiaan itu adalah hasil kerja keras anda; artinya, jika anda hidup bertanggung jawab, hidup menurut pola hidup sehat, hidup bermasyarakat secara baik, mampu melepaskan diri dari pemusatan pada kepentingan diri melulu, maka hasilnya adalah kebahagiaan.

 

2) Bagaimana dengan stres? Hidup memang selalu terisi dengan stres. Tapi ada stres yang baik (eustress) yang justru menempa anda menjadi kuat, dan tentu saja ada stres yang buruk (distress); dan ternyata distress muncul melalui attitude. Anda menyikapi stres dengan bijak, maka stres itu menjadi stres yang baik. Anda menyikapi stres dengan buruk, maka jadilah stres yang buruk dan menghancurkan.

Menyikapi stres dengan bijak adalah jika anda menerimanya sebagai tantangan, kemudian secara persisten (tekun, telaten) mengelolanya sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai musuh.

 

3) Jalani hidup ini sebanyak mungkin bersama dengan insan-insan yang sama-sama bertanggung jawab dan menyepakati pola hidup sehat, yang menyepakati untuk mengambil pola pikir dan perilaku menjauhkan diri dari pementingan diri, maka ke hadapan anda akan semakin terbuka jalan menggapai kebahagiaan.  Hindari terlalu sering / terlalu lama bergaul dengan insan-insan yang hidupnya dipenuhi pementingan diri, dengki, gossip, kikir, malas dan tidak bertanggung jawab; mereka hanya akan menimbun racun dalam diri anda.

Beth Dreher, Reader’s Digest, March 2011,

Incoming search terms:

Cara Merencanaan Dana Pendidikan Anak

Tahukah Anda bahwa menurut data statistik, biaya pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data, biaya pendidikan di beberapa universitas besar (Trisakti, Unpar dll) di Indonesia naik sebesar 12,5% per tahunnya. Di tahun 2007, biaya pendidikan di universitas Indonesia selama 4 tahun kurang lebih 154 juta. Ini belum termasuk biaya hidup seperti biaya kost, makan, transportasi dll.

Jika rata-rata kenaikan biayanya adalah 12.5%/tahun, maka diperikirakan di tahun 2012  biaya yang diperlukan menjadi 277 juta, sedangkan di 2017 menjadi 500 juta. Sehingga sudah layaknya jika anda saat ini memiliki anak yang masih kecil, sebaiknya mulai dipikirkan bagaimana biaya pendidikannya nanti.

Melalui skema perencanaan dana pendidikan yang kami buat, maka jika saat ini Anda memiliki anak berusia 5th dan anda sudah mulai mengalokasikan Rp. 500rb/bulan, maka saat anak berusia 20 tahun, akan tersedia dana kurang lebih sebesar 265juta yang dapat dialokasikan untuk biaya kuliah anak. Ditambah lagi, jika sampai terjadi sakit kritis yang menyebabkan kepala keluarga tidak dapat melanjutkan menabung, maka biaya menabung akan dilanjutkan oleh perusahaan asuransi.

Hubungi kami untuk mengetahui lebih lanjut produk kami ini di 0812 98 793976. Kami berafiliasi dengan asuransi Avrist yang telah 35th bergerak dalam bidang asuransi di Indonesia.

Untuk asuransi kesehatan dan dana pensiun karyawan, klik disini: Asuransi karyawan

Incoming search terms:

Umur Sel


 

Kematian wajar setiap insan umumnya disebut juga ‘mati karena usia’. Apa yang mendorong kematian ‘wajar’ itu?

Ada 3 hal pokok yang saling berkaitan, yang semuanya berhubungan dengan kematian sel: 1) telomere yang kelewat pendek, 2) radikal bebas, 3) mitochondria yang sudah tak mampu bekerja optimal.

Sedikit penjelasan:

1) tentang telomere

Telomere adalah gugus basa DNA yang terdiri dari 2 thymine, 1 adenine dan 3 guanine (TTAGGG) yang menempati ujung dari pita chromosome. Pada waktu pembelahan sel, chromosome membelah, dan telomere menjaga agar hasil belahan chromosome tidak ruwet. Ibaratnya seperti pita plastik atau aluminium yang membungkus ujung tali sepatu agar serat tali sepatu ujungnya tidak ruwet atau terpecah-pecah. Saat pembelahan chromosome, telomere juga ikut membelah, hasil pembelahannya terbagi sama ke chromosome hasil belahan. Tapi ternyata dengan bertambahnya usia, telomere saat pembelahan tidak terbelah sempurna; hasilnya telomere hasil belahan berkurang (memendek). Ini tidak mengganggu chromosome, tapi ketika telomere sudah sedemikian pendek sehingga tidak lagi bisa membelah, chromosome juga tidak lagi bisa membelah, sel menjadi tua tanpa dapat diperbarui lagi, lalu mengalami kematian spontan.

Diperkirakan telomere saat lahir mengandung gugus basa DNA sebanyak 10.000 pasang, tapi mulai usia 20-an tahun, telomere mulai mengalami pemendekan, sekitar 50 pasang basa DNA setiap tahunnya. Jika jumlah gugus basa DNA mencapai 5000-an maka kemampuan sel untuk membelah (dan memperbarui diri) sudah habis, sel mengalami kematian. Semakin banyak sel mati, semakin menurun fungsi organ, maka itulah proses penuaan itu, sampai akhirnya jumlah sel yang mengalami kematian sudah mencapai nilai ambang tertentu, maka itulah saatnya kematian menjemput.

2) Radikal bebas.

Radikal bebas terbentuk pada setiap metabolisme yang menghasilkan energi. Radikal bebas pada mulanya dibutuhkan untuk ‘membakar’ benda-benda asing yang secara rutin merasuki tubuh manusia. Jika ada sisa radikal bebas, maka tubuh akan menetralkannya dengan anti oksidan.

Tapi memasuki usia tertentu, radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh menetralkan dengan anti oksidan, akibatnya radikal bebas akan bereaksi dengan lemak dan kholesterol, membuat kholesterol jadi tidak ramah lagi, sebab lantas melekat pada dinding pembuluh  darah dan meracuni selaput pembungkus syaraf, akibatnya terjadilah gangguan pembuluh darah dan syaraf, yang buntutnya kematian atau mimimal cacat. Ini termasuk bagian dari skenario kematian.

3) Mitochondria yang tidak optimal.

Mitochondria adalah bagian dari sel yang khusus bekerja menghasilkan energi yang dibutuhkan agar sel tetap hidup. Memasuki usia lanjut, kerja mitochondria ini mulai kacau, tidak efektif lagi menghasilkan energi, sehingga sel tidak lagi bisa dihidupi karena ketiadaan energi. Apalagi ngawurnya lagi mitochondria, ia malah menghasilkan radikal bebas.

Sampai kini dipercaya mitochondria asal mulanya adalah makhluk hidup tersendiri (jenis ricketsia), lantas dengan terbentuknya sel, ia melebur, bersimbiose mutualistis dengan sel, ia mendapat pasokan bahan mentah, tapi ia juga harus menghasilkan energi bagi imduk semangnya.

Pada usia lanjut, mekanisme simbiose mulai terganggu, filosofinya: sama-sama makin tua makin rewel. Inilah awal tanda mendekatnya kematian.

Seorang ilmuwan, Bill Andrews, mengadakan banyak eksperimen untuk mengatasi penyebab kematian sel itu. Belum banyak berhasil, tapi sudah memperlihatkan beberapa tanda positif. Inilah hal-hal yang telah dicapainya sejauh ini; kalau kita ingin sedikit bisa memperpanjang umur sel dalam tubuh  kita, barangkali ada harganya kita mempraktekkannya.

1) upaya mempertahankan telomere.

telah ditemukan suatu zat, telomerase, yang dapat mempertahankan keberadaan telomere sehingga tidak tergesa-gesa memendek. Sekarang tinggal bagaimana tubuh memperolehnya.

Beberapa hasil percobaan menunjukkan antara lain hormon estrogen  berperan menghadirkan telomerase itu, tapi pada usia lanjut estrogen memang sudah menurun jauh. Penambahan estrogen buatan beresiko kanker. Yang diduga masih aman untuk meningkatkan estrogen adalah fito estrogen (estrogen berasal dari tanaman), misalnya dari kedelai dan hasil ikutannya (susu kedelai, tahu, tempe).

Keberadaan testosteron juga kemungkinan memperbesar peluang hadirnya telomerase. Testosteron bisa dimunculkan lagi ketika seseorang memelihara kehidupan seksualnya (baik laki-laki maupun perempuan), atau secara terprogram melakukan hal-hal yang bernuansa tantangan atau sesuatu yang menggairahkan (exciting, excited), misalnya olah raga yang menantang, program-program sosial yang menantang, semangat berkorban, semangat ‘menyalibkan diri’ demi keselamatan  orang lain. Sebaliknya hal-hal yang nuansanya egosentris dan pemuasan diri-sendiri  justru menjauhkan dari munculnya testosteron, artinya menjauhkan kehadiran telomerase.

Suplemen herbal, antara lain yang mengandung ‘astragalus’ (kebanyakan ada pada obat-obat Tionghoa).

2) Radikal bebas.

Yang ini sudah gamblang, ketika orang zaman kini berbondong-bondong ‘keranjingan anti oksidan’. Satu kenyataan tentang radikal bebas, jika anda ingin mengurangi produksi radikal bebas dalam tubuh anda, kurangi porsi makan anda, sebab radikal bebas selalu terbentuk manakala tubuh sedang mencerna makanan penghasil energi. Jadi, banyak-banyak makan sayuran sebab hanya sayuranlah yang hasil metabolismenya tidak banyak menghasilkan energi (dan radikal bebas). Gula, tepung (nasi, gandum) dan lemak (sumber kholesterol dan trigliserida) paling banyak menghasilkan energi (dan radikal bebas). Selain itu oksigenasi yang optimal atas organ-organ, termasuk sel-sel juga ikut membantu pertahanan menghadapi radikal bebas. Dan cara paling gampang adalah dengan program aerobik yang teratur tiap hari. Ada yang menyarankan 5 kali seminggu, sebab badan juga membutuhkan waktu untuk ‘recovery’ setelah program latihan fisik itu, dalam seminggu 2 hari.

Akan halnya radikal bebas yang berasal dari luar, hindari semua jenis polusi, terutama dari golongan asap, termasuk asap rokok sebab radikal bebas yang langsung masuk dan langsung merusak adalah yang masuk melalui paru-paru.

3) Mitochondria.

Meyakini kehadiran mitochondria sebagai ‘sesama makhluk’ yang bersimbiose dengan sel dalam tubuh kita, kita perlu ‘mengembalikan’ suasana saling menguntungkan antara ‘makhluk’ mitochondria ini dengan ‘induk semang’ sel tubuh kita (dengan kita secara keseluruhannya). Caranya: mengurangi beban kerja mitochondria: menghindari energi yang ‘sia-sia’, seperti stres (distress), kekuatiran, kecemasan, depresi, nelangsa, dendam, amarah. Pada saat kondisi seperti itu tubuh sebenarnya tidak membutuhkan energi ekstra, tapi efek stresor selalu meningkatkan hormon kelompok kortisol yang membutuhkan pengadaan energi ekstra, yang artinya membebani mitochondria (yang sudah mulai uzur) bekerja ekstra untuk energi yang akhirnya tak terpakai sebab stres kita bukan stres yang membutuhkan energi fisik. Nah, kalau sering-sering mubazir begitu, agaknya si ‘makhluk’ mitochondria kita ini juga jadi ‘kesal hati’ lantas mulailah ia ngawur.

Jadi mengelola stres dengan  bijak seperti latihan meditasi, aerobik, kehadiran sahabat, kerja sosial, aktif kumpulan kelompok sosial, kehidupan spiritual yang benar sangat menolong keadaan ini.

Ada yang mempertanyakan kebenaran teori ini, sebab kenyataannya sel yang paling sering mengalami kematian awal adalah sel otot jantung dan syaraf/otak, yang selnya justru memang tidak pernah membelah/memperbarui diri. Dr.Andrews menjawab: kematian sel pada jantung dan syaraf/otak disebabkan lebih banyak karena sel pendukungnya yang sudah tak mampu memperbarui diri: dalam hal jantung adalah sel endotel, yang seharusnya selalu diperbarui (dan karenanya harus sering membelah diri); dalam hal sel syaraf dan otak adalah sel glia dan sel schwann yang bertugas menjaga keutuhan dan kehidupan sel syaraf, dan sel glia dan scwann memang selalu memperbarui diri.

Dr.Andrews juga memperingatkan, kehadiran telomerase yang terlalu banyak juga beresiko menjadikan sel tidak bisa mati dan selalu membelah sehingga potensial menjadi kanker.

Joseph Hooper, The Man Who Would Stop Time, Popular Science, August 2011

 

Incoming search terms:

Arus Listrik Netral… Bisa Jadi Ancaman!


Pekik Argo Nugroho, Kompas 9-6-2003

Bartien Sayogo, Kompas 11-8-2003

Arus listrik netral lebih dikenal dengan “kabel netral” atau kabel negatif.

Penghantaran arus listrik dari generator ke konsumen umumnya dilakukan lewat 2 jenis kabel: kabel positif, yang menghantarkan arus bolak-balik (dari dan ke generator) dan yang netral, kabel negatif yang ‘mengembalikan’ arus dari konsumen setelah ‘habis dipakai’ kembali ke generator, untuk membentuk sirkuit tertutup, yang lalu dibumikan (grounded) di sisi generator. Tanpa kabel negatif ini, arus tidak bisa mengalir sebab sirkuitnya masih terbuka. Ibaratnya seperti mengalirkan air dari kran melalui selang (kabel positif) ke dalam drum tertutup rapat. Air baru bisa mengalir jika ada ‘selang’ dari drum yang mengeluarkan udara di dalam drum keluar (kabel negatif), walau di selang udara tidak ada aliran air.

Pada umumnya kita menganggap kabel negatif ini netral, tidak ada arus mengalir. Kalau disentuh tidak ada kejutan listrik. Juga jika disentuh test pen tidak akan menyala. Apalagi kemudian kabel ini dibumikan sehingga kalaupun ada arus, langsung terbuang ke bumi. Seperti kita fahami, seharusnya selain kabel positif dan negatif masih harus ada kabel pembumian (ground) di sisi masing-masing konsumen, yang fungsinya, kalau ada ‘sisa’ arus, bisa langsung dibuang, tanpa menunggu dibuang di sisi generator.

Nah… kini masalahnya.

Keadaan itu baru terjadi secara ideal jika konsumen memakai listrik secara liniair, yaitu seperti yang dibangkitkan generator: arus bolak-balik, yang dikenal dengan istilah “sinusoidal”. Misalnya pada pemakaian lampu pijar, setrika listrik, motor listrik arus  bolak-balik dan sebagainya. Tapi belakangan ini sudah banyak perangkat elektronik yang harus memakai arus searah. Untuk itu, arus bolak-balik dari generator harus diubah menjadi arus searah, yaitu dengan komponen dioda. Dioda meluruskan arus dengan cara hanya meneruskan arus satu arah saja, arah baliknya dibuang. Selanjutnya, agar hantaran arus merata, juga dipasang kapasitor, yang dapat ‘mengisi jeda’ ketika sedang tidak ada arus. Maka arus jadi seperti rata mengalir. Tapi sudah tidak sinusoidal lagi, disebut non-liniair.

Nah, jadi, akan selalu ada ‘sisa’ arus yang dibuang sebab tidak dipakai perangkat arus searah tadi. Dibuangnya tentu saja lewat kabel netral / negatif tadi. Maka sekarang kabel negatif sudah tidak benar-benar negatif lagi, sampai ia dibumikan.

Sampai dengan tahun 2000, ketentuan untuk kabel netral / negatif ini masih ‘kuno’ karena didasarkan asumsi bahwa semua konsumen memakai perangkat liniair, sehingga kabel netral tidak perlu tebal-tebal (menghemat biaya) sebab hanya ‘sekadar’ menutup sirkuit.

Tapi mulai tahun 2000 pemakaian perangkat non-liniair makin banyak, bahkan di beberapa lokasi cenderung mayoritas, misalnya perusahaan atau pertokoan perangkat elektronik, perkantoran yang memakai sangat banyak perangkat arus searah (komputer dan perangkat arus searah lain). Akibatnya, jika kabel netral masih saja memakai kabel ‘kuno’ yang kecil, ia akan kelebihan beban, menjadi panas, dan potensial menimbulkan kebakaran. Maka jangan heran kebakaran sering terjadi di lokasi pertokoan elektronik dan perusahaan yang mengoperasikan banyak perangkat arus searah, saat ini mayoritas pemakaian komputer.

Sebenarnya standar instalasi Indonesia sejak tahun 2000 sudah mewajibkan penggantian kabel netral / negatif dengan kabel besar, sama besar dengan kabel positifnya, itupun dengan kewajiban memasang perangkat pendeteksi kelebihan arus, yang akan memutus arus pada kabel positifnya.

Tapi, itu akan makan biaya cukup besar sebab ibaratnya melakukan instalasi ulang. Jadi banyak yang masih enggan.

Lantas, yang keterlaluan lagi, banyak instalasi yang masih berpedoman ‘kuno’ lagi (yang barangkali juga ada di instalasi listrik rumah anda!)

yaitu menggabungkan kabel pembumian (ground)dengan kabel negatif. Asumsinya tentu saja sama: toh kabel ground tak akan benar-benar berfungsi, karena arus akan sudah habis dipakai alat listriknya. Alasannya, untuk menghemat biaya instalasi, sebab lantas jadi tidak perlu menanam kabel pembumian ke bumi di tiap pelanggan (penanaman kabel pembumian ini bagaimanapun makan biaya, sebab harus menanam sekian meter batang tembaga ke dalam tanah).

Maka dapat difahami, dengan kondisi pemakaian listrik yang memakai perangkat non-liniair / arus searah, pasti akan selalu ada ‘sisa’ arus listrik pada kabel negatif, yang seharusnya akan terbuang jika ada kabel pembumian. Jika di sisi konsumen tidak dipasang pembumian, artinya arus ‘sisa’ itu akan ngendon di kabel negatif, sampai ia dialirkan ke sisi generator, karena baru di sana ia dibumikan.

Artinya, sewaktu-waktu kalau anda kebetulan menyentuh kabel negatif di rumah anda, akan terasa sengatan ringan, apalagi kalau anda berdiri tanpa alas kaki.

Incoming search terms:

Asuransi Kesehatan Gratis

Banyak orang yang umumnya merasa bahwa asuransi adalah tindakan yang membuang uang tanpa hasil yang nyata. Tapi semakin mahalnya biaya berobat dan rumah sakit, (saat ini biaya kamar rumah sakit untuk siingle, bisa Rp. 500rb/hari, belum lagi biaya dokter, pembedahan yang bisa puluhan sampai ratusan juta, obat, laboratorium, terapi dll) makin banyak orang yang makin sadar akan pentingnya berasuransi. Dan mulai timbulnya asuransi yang dikaitkan dengan investasi, membuat banya orang malah mendapatkan keuntungan dengan ikut asuransi. Asuransi yang saya maksud disini adalah asuransi kesehatan. Keuntungannya diantaranya adalah:

  1. Karena prinsip asuransi adalah seperti arisan, dimana resiko dibagi oleh sedemikian banyak orang, maka biaya asuransi jauh lebih kecil dari manfaat yang diperoleh. Misalnya hanya dengan premi Rp. 300rb/bulan, seseorang dapat mendapatkan manfaat kamar rumah sakit s/d 45 juta, ICU 30 juta, biaya kamar operasi, obat, fisioterapi dll s/d 6juta, pembedahan sd/ 12.5jt, konsultasi dokter sebelum rawat inap 15.5jtjt, saat rawat inap 22.5jt, sesudah rawat inap, rawat jalan 1jt. Jika terjadi penyakit kritis akan diberi uang Rp. 30jt, jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat akan diberikan Rp. 30juta, jika terjadi musibah sampai meninggal juga mendapatkan Rp. 30juta
  2. jika terjadi penyakit kritis atau kecelakaan yang mengakibatkan anda tidak bisa meneruskan membayar premi, maka premi akan terus dibayarkan oleh perusahaan asuransi jiwa, artinya anda akan mendapatkan asuransi gratis
  3. Bahkan jika kondisi ekonomi tetap stabil, maka di usia pensiun (umur 55), semua biaya yang sudah anda keluarkan akan dikembalikan berikut hasil investasinya yang diperkirakan bisa sampai dengan 265 juta yaitu sebesar 205% atau bahkan lebih. Yang artinya bukan saja asuransi anda menjadi gratis, bahkan menghasilkan keuntungan yang cukup besar.

 

Demikian salah satu contoh keuntungan dari berasuransi kesehatan di masa kini yang memang produknya telah berevolusi dibandingkan jenis asuransi di masa lalu, jika Anda ingin tahu lebih lanjut, silahkan hubungi saya di 0812 98 793976 Kami berafiliasi dengan asuransi Avrist yang telah 35th bergerak dalam bidang asuransi di Indonesia.

Untuk asuransi kesehatan dan dana pensiun karyawan, klik disini: Asuransi karyawan

 

 

Incoming search terms: